This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 28 Januari 2018

Sangat Viral 3 Penyebab Keterpurukan Persib Di Piala Presiden 2018


Persib Bandung yang berstatus jawara edisi perdana Piala Presiden 2015 harus melupakan mimpi mengulang prestasi tahun ini. Tim Maung Bandung tersingkir dari persaingan turnamen pramusim secara menyakitkan.

Persib tersungkur di persaingan Grup A dengan hanya menghuni posisi tiga besar. Sriwijaya FC menempati posisi teratas klasemen.

Tim asuhan Mario Gomez mengalami dua kekalahan, yaitu dikala menjajal PSMS Medan (0-2) dan PSM Makassar (0-2). Padahal, Hariono dkk. sempat di atas angin ketika memenangi duel pembuka kontra Sriwijaya FC dengan skor 1-0.

Pertandingan versus PSM yang digelar Jumat (26/1/2018) di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Gedebage, sejatinya jadi kesempatan bagi Persib buat membuka peluang lolos ke perempat final. Pada hari yang sama, PSMS menderita kekalahan 0-2 dari Sriwijaya FC.

 Sayang, Persib gagal memanfaatkan kesempatan emas dengan kalah melawan Tim Juku Eja. Padahal, kubu lawan menurunkan skuat lapis kedua dengan banyak pemain muda.

Persib punya peluang mendulang poin absolut, sesudah Zulkifli Syukur dikartu merah pada pertengahan babak kedua. Namun, yang terjadi sebaliknya, PSM dengan modal 10 pemain malah menjebol gawang Tim Pangeran Biru.

Dari tiga pertandingan Persib di Grup A terlihat kalau klub kampiun Indonesia Super League 2014 penampilannya tidak stabil. Gomez belum menemukan klik dengan pemain-pemainnya.

Bola.com membedah titik lemah Persib Bandung dikala berlaga di turnamen pramusim jelang

1. Terlalu Banyak Serdadu Tua

Regenerasi jadi perkara utama Persib Bandung. Terlalu banyak pemain gaek di Tim Maung Bandung.

I Made Wirawan (36 tahun), Supardi Nasir (34), Tony Sucipto (31), Atep Rizal (32), Hariono (32), Sergio van Dijk (35), Victor Igbonefp (32), gugusan pemain yang sanggup dibilang telah melewati masa keemasan. Sebagian besar di antara mereka masih jadi pelanggan posisi inti.

Persib kian kental aroma serdadu veteran, dikala administrasi Persib memboyong balik Airlangga Sucipto (32) dan Eka Ramdani (33) jelang Piala Presiden 2018. Keduanya beberapa demam isu terakhir tak pernah mentas di klub elite lagi.

Deretan pemain gila Tim Pangeran Biru, Bojan Malisic (33),  Michael Essien (35), Oh In-kyun (32) juga usianya tidak lagi muda.

Memang ada upaya administrasi dengan memberi kesempatan bermain lebih besar pada pemain didikan Akademi Persib. Sayangnya, di antara gugusan pemain belia Persib macam, Febri Haryadi (21), Gian Zola (19), Billy Keraf (20), Puja Abdillah (21), tak semuanya rata menerima jam terbang tinggi bertanding.

Sebagian besar di antara mereka lebih sering duduk di dingklik cadangan. Jangan heran dengan modal pemain-pemain gaek Persib menyerupai kesulitan menghadapi tim-tim pesaing yang punya skuat lebih segar dengan banyak young guns.

2. Belanja Pemain Asing yang Lambat

Kebijakan transfer pemain Persib di masa Mario Gomez cenderung lambat.

Jelang Piala Presiden 2018 Persib gres mendaratkan dua legiun impor, Bojan Malisic dan Oh In-kyun, plus ditambah Victor Igbonefo yang dihitung sebagai pemain naturalisasi.

Kedatangan Oh In-kyun bahkan sempat dipertanyakan banyak bobotoh. Gelandang asal Korea Selatan itu dinilai kurang pantas bermain di Persib. Kualitasnya dipandang biasa-biasa saja, tak pernah berkarier di klub top Tanah Air.

Di sisi lain Persib menentukan mempertahankan Michael Essien Ezechiel N'Douassel yang rapotnya kurang mengkilap di pentas Liga 1 2017.

Di sektor pemain lokal Persib mendatangkan duo Airlangga Sucipto dan Eka Ramdani, yang dinilai tidak lagi berada di top level.

Airlangga lebih banyak jadi pemain cadangan di Sriwijaya FC. Sementara itu, Eka berkiprah di klub papan bawah, Persela Lamongan.

Bandingkan dengan pesaing di Grup A, Sriwijaya FC dan PSM Makassar, yang banyak mendatangkan pemain baru, kebijakan transfer Persib terkesan stagnan. Padahal, klub yang satu ini dikenal kaya raya dan royal membayar pemain.

3. Mario Gomez Masih Kesulitan Beradaptasi

Pelatih asal Argentina, Mario Gomez, punya reputasi mentereng di klub Malaysia, Johor Darul Ta'zim (JDT). Tim tersebut jadi penguasa Liga Super Malaysia. Ditangan Gomez mereka sempat juara Piala AFC pada demam isu 2016 silam.

Namun, Gomez pengetahuannya minim soal sepak bola Indonesia. Pengalaman yang minim membuatnya butuh waktu buat beradaptasi.

Sang mentor hanya punya hitungan waktu kurang dari sebulan mempersiapkan Persib buat bertarung menghadapi Piala Presiden 2018. Gomez menyebut sekurangnya dia butuh enam bulan buat membangun soliditas permainan Tim Maung Bandung.

Waktu yang terhitung lama, yang mungkin tidak sanggup dia dapatkan. Bobotoh Persib dikenal sangat rewel kalau klubnya tidak berprestasi. Dalam sejarah, belum pernah ada instruktur gila yang sukses di Tim Pangeran Biru. Sudah delapan arsitek menepi dengan cara tidak yummy alasannya gagal mempersembahkan trofi buat Persib.

Kegagalan Persib melaju ke fase perempat final sanggup jadi menciptakan tidur Mario Gomez tidak akan tenang. Kursinya mulai panas.

Akan tetapi administrasi Persib juga tidak semestinya lepas tangan. Mereka yang menggaet nakhoda berusia 61 tahun, dan mengaku sangat yakin Gomez sanggup mengerek prestasi Persib yang demam isu 2017 kemudian terpuruk.

Sangat Viral 3 Penyebab Keterpurukan Persib Di Piala Presiden 2018


Persib Bandung yang berstatus jawara edisi perdana Piala Presiden 2015 harus melupakan mimpi mengulang prestasi tahun ini. Tim Maung Bandung tersingkir dari persaingan turnamen pramusim secara menyakitkan.

Persib tersungkur di persaingan Grup A dengan hanya menghuni posisi tiga besar. Sriwijaya FC menempati posisi teratas klasemen.

Tim asuhan Mario Gomez mengalami dua kekalahan, yaitu dikala menjajal PSMS Medan (0-2) dan PSM Makassar (0-2). Padahal, Hariono dkk. sempat di atas angin ketika memenangi duel pembuka kontra Sriwijaya FC dengan skor 1-0.

Pertandingan versus PSM yang digelar Jumat (26/1/2018) di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Gedebage, sejatinya jadi kesempatan bagi Persib buat membuka peluang lolos ke perempat final. Pada hari yang sama, PSMS menderita kekalahan 0-2 dari Sriwijaya FC.

 Sayang, Persib gagal memanfaatkan kesempatan emas dengan kalah melawan Tim Juku Eja. Padahal, kubu lawan menurunkan skuat lapis kedua dengan banyak pemain muda.

Persib punya peluang mendulang poin absolut, sesudah Zulkifli Syukur dikartu merah pada pertengahan babak kedua. Namun, yang terjadi sebaliknya, PSM dengan modal 10 pemain malah menjebol gawang Tim Pangeran Biru.

Dari tiga pertandingan Persib di Grup A terlihat kalau klub kampiun Indonesia Super League 2014 penampilannya tidak stabil. Gomez belum menemukan klik dengan pemain-pemainnya.

Bola.com membedah titik lemah Persib Bandung dikala berlaga di turnamen pramusim jelang

1. Terlalu Banyak Serdadu Tua

Regenerasi jadi perkara utama Persib Bandung. Terlalu banyak pemain gaek di Tim Maung Bandung.

I Made Wirawan (36 tahun), Supardi Nasir (34), Tony Sucipto (31), Atep Rizal (32), Hariono (32), Sergio van Dijk (35), Victor Igbonefp (32), gugusan pemain yang sanggup dibilang telah melewati masa keemasan. Sebagian besar di antara mereka masih jadi pelanggan posisi inti.

Persib kian kental aroma serdadu veteran, dikala administrasi Persib memboyong balik Airlangga Sucipto (32) dan Eka Ramdani (33) jelang Piala Presiden 2018. Keduanya beberapa demam isu terakhir tak pernah mentas di klub elite lagi.

Deretan pemain gila Tim Pangeran Biru, Bojan Malisic (33),  Michael Essien (35), Oh In-kyun (32) juga usianya tidak lagi muda.

Memang ada upaya administrasi dengan memberi kesempatan bermain lebih besar pada pemain didikan Akademi Persib. Sayangnya, di antara gugusan pemain belia Persib macam, Febri Haryadi (21), Gian Zola (19), Billy Keraf (20), Puja Abdillah (21), tak semuanya rata menerima jam terbang tinggi bertanding.

Sebagian besar di antara mereka lebih sering duduk di dingklik cadangan. Jangan heran dengan modal pemain-pemain gaek Persib menyerupai kesulitan menghadapi tim-tim pesaing yang punya skuat lebih segar dengan banyak young guns.

2. Belanja Pemain Asing yang Lambat

Kebijakan transfer pemain Persib di masa Mario Gomez cenderung lambat.

Jelang Piala Presiden 2018 Persib gres mendaratkan dua legiun impor, Bojan Malisic dan Oh In-kyun, plus ditambah Victor Igbonefo yang dihitung sebagai pemain naturalisasi.

Kedatangan Oh In-kyun bahkan sempat dipertanyakan banyak bobotoh. Gelandang asal Korea Selatan itu dinilai kurang pantas bermain di Persib. Kualitasnya dipandang biasa-biasa saja, tak pernah berkarier di klub top Tanah Air.

Di sisi lain Persib menentukan mempertahankan Michael Essien Ezechiel N'Douassel yang rapotnya kurang mengkilap di pentas Liga 1 2017.

Di sektor pemain lokal Persib mendatangkan duo Airlangga Sucipto dan Eka Ramdani, yang dinilai tidak lagi berada di top level.

Airlangga lebih banyak jadi pemain cadangan di Sriwijaya FC. Sementara itu, Eka berkiprah di klub papan bawah, Persela Lamongan.

Bandingkan dengan pesaing di Grup A, Sriwijaya FC dan PSM Makassar, yang banyak mendatangkan pemain baru, kebijakan transfer Persib terkesan stagnan. Padahal, klub yang satu ini dikenal kaya raya dan royal membayar pemain.

3. Mario Gomez Masih Kesulitan Beradaptasi

Pelatih asal Argentina, Mario Gomez, punya reputasi mentereng di klub Malaysia, Johor Darul Ta'zim (JDT). Tim tersebut jadi penguasa Liga Super Malaysia. Ditangan Gomez mereka sempat juara Piala AFC pada demam isu 2016 silam.

Namun, Gomez pengetahuannya minim soal sepak bola Indonesia. Pengalaman yang minim membuatnya butuh waktu buat beradaptasi.

Sang mentor hanya punya hitungan waktu kurang dari sebulan mempersiapkan Persib buat bertarung menghadapi Piala Presiden 2018. Gomez menyebut sekurangnya dia butuh enam bulan buat membangun soliditas permainan Tim Maung Bandung.

Waktu yang terhitung lama, yang mungkin tidak sanggup dia dapatkan. Bobotoh Persib dikenal sangat rewel kalau klubnya tidak berprestasi. Dalam sejarah, belum pernah ada instruktur gila yang sukses di Tim Pangeran Biru. Sudah delapan arsitek menepi dengan cara tidak yummy alasannya gagal mempersembahkan trofi buat Persib.

Kegagalan Persib melaju ke fase perempat final sanggup jadi menciptakan tidur Mario Gomez tidak akan tenang. Kursinya mulai panas.

Akan tetapi administrasi Persib juga tidak semestinya lepas tangan. Mereka yang menggaet nakhoda berusia 61 tahun, dan mengaku sangat yakin Gomez sanggup mengerek prestasi Persib yang demam isu 2017 kemudian terpuruk.

Sabtu, 27 Januari 2018

Sangat Viral Sebab Tiba Ke Stadion Yaitu Hak Suporter


Dalam sepakbola, suporter yaitu salah satu elemen terpenting. Tanpa pinjaman mereka, para pemain sepakbola di lapangan sanggup kehilangan semangat dan motivasi untuk memenangkan pertandingan. Oleh sebab itu, suporter mendapat julukan ‘pemain ke-12’, sebab mereka juga menjadi faktor penting dalam suatu pertandingan.

Dengan pinjaman para suporter, setiap kesebelasan yang bertanding akan berusaha memperlihatkan permainan terbaiknya berupa kemenangan untuk memuaskan mereka, juga sebagai bentuk ucapan terima kasih pada para suporter yang telah tiba ke stadion.

Graham (1976) dalam buku Psychology of Sports, mengartikan suporter sebagai individu maupun kelompok yang hadir pada suatu pertandingan olahraga dengan tujuan memperlihatkan dukungannya kepada salah satu tim yang bertanding dan merasa mempunyai keterikatan dengan tim tersebut.

Suporter selalu mendukung kesebelasan, klub, tim, atau tim nasional kesayangannya dengan penuh semangat, dan sangat fanatik. Mereka tidak pernah berhenti mendukung kesebelasan favoritnya selama pertandingan berlangsung, entah dengan cara meneriaki pemainnya, menyanyikan anthem kesebelasan, hingga koreografi-koreografi unik akan mereka lakukan demi mendukung kesebelasan mereka hingga pertandingan berakhir.

Empat aspek fanatisme

Fanatisme suporter ini tidak lepas dari kecintaan mereka terhadap kesebelasan dan sepakbola (tapi harus hati-hati sebab sanggup menjadi candu). Menurut Goddard (2001), dalam buku Civil Religion menyampaikan ada empat aspek fanatisme.

Pertama, besarnya minat dan kecintaan pada satu jenis kegiatan. Dengan fanatisme, seseorang akan gampang memotivasi dirinya sendiri untuk lebih meningkatkan usahanya mendukung kesebelasan favoritnya.

Kedua, sikap pribadi maupun kelompok terhadap acara tersebut. Hal ini merupakan jiwa dari memulai sesuatu yang akan dilakukan.

Ketiga, lamanya individu menekuni suatu jenis acara tertentu. Jika seseorang itu menyukai kesebelasan favoritnya semenjak lama, mereka akan punya pengetahuan mengenai kesebelasan-kesebelasannya, dan kuat pada kecintaan mereka terhadap kesebelasan tersebut.

Keempat, motivasi yang tiba dari keluarga juga mempengaruhi seseorang terhadap bidang kegiatannya. Misalnya anggota keluarga kita mempunyai kesebelasan favorit yang sama dengan kita, maka keluarga kita sanggup memberi imbas pada kita untuk semakin menumbuhkan fanatisme terhadap kesebelasan tersebut.

Namun, suporter tidak selalu melaksanakan tindakan yang berdampak aktual pada kesebelasan favoritnya (mendukung kesebelasan favoritnya). Tidak jarang para suporter juga melaksanakan tindakan-tindakan yang anarkis atau melanggar aturan, hingga merugikan kesebelasan sebab mereka harus membayar denda dari kesalahan yang dibentuk para suporter. Misalnya melaksanakan rasisme terhadap pemain, melemparkan aneka macam benda ke dalam lapangan pertandingan, hingga melaksanakan penyerangan terhadap wasit sebagai bentuk ketidakpuasan mereka terhadap kinerja sang pengadil lapangan tersebut.

Ada hukuman, tidak ada solusi

Hukuman pun menjadi bentuk ‘hadiah’ dari federasi sepakbola, baik dalam maupun luar negeri untuk menciptakan jera suporter. Salah satu bentuk eksekusi yang sering dilakukan yaitu melarang suporter tiba ke stadion.

Sayangnya eksekusi itu sangat tidak ampuh untuk menciptakan jera para suporter. Sungguh percuma dengan menghukum suatu individu atau kelompok, tanpa memperlihatkan upaya preventif atau solusi biar kejadian tersebut tidak terus terulang.

Apalagi, melarang para suporter untuk tiba ke stadion dan mendukung kesebelasan kesayangannya, secara tidak pribadi otoritas sepak bola telah melanggar hak asasi insan mereka bukan?

Permasalahannya adalah, belum ada aturan resmi yang sanggup memberi pendidikan kepada kelompok suporter, terutama dari FIFA (Football International Federatioan Assosiation) sebagai otoritas sepakbola internasional.

Hampir sama dengan FIFA, organisasi sepakbola di Indonesia (PSSI) juga belum menemukan formula yang sempurna untuk menangani kasus kenakalan suporter. Padahal di Indonesia, kasus-kasus ibarat itu juga selalu tiba setiap demam isu dan menjadi dilema yang (masih) belum sanggup ditangani. Namun, bukan berarti tidak ada cara yang sanggup dicoba oleh PSSI.

Gusti Randa, anggota Komite Eksekutif PSSI, menyampaikan jikalau PSSI sanggup meratifikasi peraturan FIFA mengenai pengendalian suporter. Dalam aturan FIFA itu, kesebelasan bertanggung jawab atas sikap kelompok yang melaksanakan kekerasan di luar stadion. Sanksi itu sanggup berupa pertandingan tanpa suporter baik ketika tandang maupun kandang.

Selain itu, dalam manual khusus yang dibentuk oleh PT. Liga Indonesia Baru (PT LIB), kesebelasan bekerjsama mempunyai kewajiban untuk menjaga relasi baik dengan fans atau suporter, serta memperlihatkan edukasi, arahan, isu seputar tugas serta fans dan suporter sebagaimana tertulis di regulasi Liga 1 Indonesia Pasal 6 ayat 8.

Kasus eksekusi pertandingan tanpa suporter

Apakah cara tersebut sudah coba dijalankan? Sepertinya belum. Hal itu terbukti dengan sejumlah kasus pelanggaran yang dilakukan suporter selama Liga 1 bergulir. Beberapa kali PSSI menjatuhkan hukuman pertandingan tanpa penonton sesuai dengan jenis pelanggaran. Kesebelasan-kesebelasan Liga Indonesia di demam isu kemudian seperti, Borneo FC, PSS Sleman, Persija Jakarta, dan Persib Bandung pernah mendapat eksekusi tersebut.

Tidak hanya di Indonesia, memperlihatkan eksekusi pada suporter untuk tidak tiba ke stadion juga pernah terjadi di sepakbola internasional. Tim nasional Kroasia pernah melakoni berkelahi sangkar menghadapi Islandia pada 12 November 2016 kemudian tanpa pinjaman suporter, akhir ulah para suporternya sendiri. Dalam berkelahi kualifikasi Piala Dunia 2018 melawan Kosovo tanggal 6 November 2016 lalu, para suporter Kroasia terbukti bersalah sesudah menyanyikan lagu anti-Serbia selama pertandingan melawan Kosovo.

Yang teranyar dua bulan lalu, tepatnya 1 Oktober 2017, klub raksasa Spanyol, FC Barcelona juga harus melakoni pertandingan La Liga tanpa penonton ketika menjamu Las Palmas.

Namun, bedanya dengan kasus pertandingan tanpa suporter di Barcelona dengan yang biasa terjadi di Indonesia adalah, dilema politik. Situasi memanas di seluruh wilayah Katalunya sebab adanya referendum masyarakat Katalunya untuk merdeka dan memisahkan diri dari Spanyol. Barcelona bekerjsama ingin menunda pertandingan tersebut, sayangnya undangan El Barca tersebut ditolak oleh Liga Sepakbola Profesional Spanyol (LFP), dan tetapkan pertandingan digelar tanpa penonton.

Pertandingan sebesar dan seatraktif sepakbola terang butuh suporter. Selain sebab setiap kesebelasan butuh pinjaman suporter sebagai motivasi meraih kemenangan, pertandingan tanpa penonton juga sanggup memengaruhi ekonomi sebab tidak ada pemasukan melalui penjualan tiket.

Kesalahan memang patut mendapat hukuman. Tapi hingga kapan eksekusi akan terus menjadi solusi imbas jera bagi suporter? Bukankah mereka layak mendapat pendidikan bagaimana menjadi suporter yang baik dari pihak kesebelasan atau organisasi sepakbola?

Bahkan salah satu hak asasi insan yang harus didapat oleh seluruh insan di dunia yaitu hak mendapat pendidikan. Jadi, lebih baik memperlihatkan pendidikan kepada para suporter untuk menjadi suporter yang sportif dan berperilaku baik, demi menjaga nama baik sepakbola Indonesia.

Mengingat 10 Desember diperingati sebagai hari HAM internasional, semoga otoritas sepak bola internasional dan domestik segera menciptakan peraturan dan pendidikan khusus untuk suporter, sehingga tidak ada lagi kasus kericuhan dan pelanggaran oleh suporter, yang menciptakan mereka kehilangan hak tiba menonton pertandingan pribadi di stadion.

Dengan begitu, tentunya setiap pertandingan di stadion akan selalu meriah, dihiasi aneka macam koreografi, lagu-lagu penuh semangat, juga teriakan-teriakan motivasi, dengan satu tujuan: memberi warna dalam dunia sepakbola.

Penulis : Muhammad Fajar Rivaldi yaitu Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Biasa berkicau di akun Twitter @RivaldiFF99

Sangat Viral Sebab Tiba Ke Stadion Yaitu Hak Suporter


Dalam sepakbola, suporter yaitu salah satu elemen terpenting. Tanpa pinjaman mereka, para pemain sepakbola di lapangan sanggup kehilangan semangat dan motivasi untuk memenangkan pertandingan. Oleh sebab itu, suporter mendapat julukan ‘pemain ke-12’, sebab mereka juga menjadi faktor penting dalam suatu pertandingan.

Dengan pinjaman para suporter, setiap kesebelasan yang bertanding akan berusaha memperlihatkan permainan terbaiknya berupa kemenangan untuk memuaskan mereka, juga sebagai bentuk ucapan terima kasih pada para suporter yang telah tiba ke stadion.

Graham (1976) dalam buku Psychology of Sports, mengartikan suporter sebagai individu maupun kelompok yang hadir pada suatu pertandingan olahraga dengan tujuan memperlihatkan dukungannya kepada salah satu tim yang bertanding dan merasa mempunyai keterikatan dengan tim tersebut.

Suporter selalu mendukung kesebelasan, klub, tim, atau tim nasional kesayangannya dengan penuh semangat, dan sangat fanatik. Mereka tidak pernah berhenti mendukung kesebelasan favoritnya selama pertandingan berlangsung, entah dengan cara meneriaki pemainnya, menyanyikan anthem kesebelasan, hingga koreografi-koreografi unik akan mereka lakukan demi mendukung kesebelasan mereka hingga pertandingan berakhir.

Empat aspek fanatisme

Fanatisme suporter ini tidak lepas dari kecintaan mereka terhadap kesebelasan dan sepakbola (tapi harus hati-hati sebab sanggup menjadi candu). Menurut Goddard (2001), dalam buku Civil Religion menyampaikan ada empat aspek fanatisme.

Pertama, besarnya minat dan kecintaan pada satu jenis kegiatan. Dengan fanatisme, seseorang akan gampang memotivasi dirinya sendiri untuk lebih meningkatkan usahanya mendukung kesebelasan favoritnya.

Kedua, sikap pribadi maupun kelompok terhadap acara tersebut. Hal ini merupakan jiwa dari memulai sesuatu yang akan dilakukan.

Ketiga, lamanya individu menekuni suatu jenis acara tertentu. Jika seseorang itu menyukai kesebelasan favoritnya semenjak lama, mereka akan punya pengetahuan mengenai kesebelasan-kesebelasannya, dan kuat pada kecintaan mereka terhadap kesebelasan tersebut.

Keempat, motivasi yang tiba dari keluarga juga mempengaruhi seseorang terhadap bidang kegiatannya. Misalnya anggota keluarga kita mempunyai kesebelasan favorit yang sama dengan kita, maka keluarga kita sanggup memberi imbas pada kita untuk semakin menumbuhkan fanatisme terhadap kesebelasan tersebut.

Namun, suporter tidak selalu melaksanakan tindakan yang berdampak aktual pada kesebelasan favoritnya (mendukung kesebelasan favoritnya). Tidak jarang para suporter juga melaksanakan tindakan-tindakan yang anarkis atau melanggar aturan, hingga merugikan kesebelasan sebab mereka harus membayar denda dari kesalahan yang dibentuk para suporter. Misalnya melaksanakan rasisme terhadap pemain, melemparkan aneka macam benda ke dalam lapangan pertandingan, hingga melaksanakan penyerangan terhadap wasit sebagai bentuk ketidakpuasan mereka terhadap kinerja sang pengadil lapangan tersebut.

Ada hukuman, tidak ada solusi

Hukuman pun menjadi bentuk ‘hadiah’ dari federasi sepakbola, baik dalam maupun luar negeri untuk menciptakan jera suporter. Salah satu bentuk eksekusi yang sering dilakukan yaitu melarang suporter tiba ke stadion.

Sayangnya eksekusi itu sangat tidak ampuh untuk menciptakan jera para suporter. Sungguh percuma dengan menghukum suatu individu atau kelompok, tanpa memperlihatkan upaya preventif atau solusi biar kejadian tersebut tidak terus terulang.

Apalagi, melarang para suporter untuk tiba ke stadion dan mendukung kesebelasan kesayangannya, secara tidak pribadi otoritas sepak bola telah melanggar hak asasi insan mereka bukan?

Permasalahannya adalah, belum ada aturan resmi yang sanggup memberi pendidikan kepada kelompok suporter, terutama dari FIFA (Football International Federatioan Assosiation) sebagai otoritas sepakbola internasional.

Hampir sama dengan FIFA, organisasi sepakbola di Indonesia (PSSI) juga belum menemukan formula yang sempurna untuk menangani kasus kenakalan suporter. Padahal di Indonesia, kasus-kasus ibarat itu juga selalu tiba setiap demam isu dan menjadi dilema yang (masih) belum sanggup ditangani. Namun, bukan berarti tidak ada cara yang sanggup dicoba oleh PSSI.

Gusti Randa, anggota Komite Eksekutif PSSI, menyampaikan jikalau PSSI sanggup meratifikasi peraturan FIFA mengenai pengendalian suporter. Dalam aturan FIFA itu, kesebelasan bertanggung jawab atas sikap kelompok yang melaksanakan kekerasan di luar stadion. Sanksi itu sanggup berupa pertandingan tanpa suporter baik ketika tandang maupun kandang.

Selain itu, dalam manual khusus yang dibentuk oleh PT. Liga Indonesia Baru (PT LIB), kesebelasan bekerjsama mempunyai kewajiban untuk menjaga relasi baik dengan fans atau suporter, serta memperlihatkan edukasi, arahan, isu seputar tugas serta fans dan suporter sebagaimana tertulis di regulasi Liga 1 Indonesia Pasal 6 ayat 8.

Kasus eksekusi pertandingan tanpa suporter

Apakah cara tersebut sudah coba dijalankan? Sepertinya belum. Hal itu terbukti dengan sejumlah kasus pelanggaran yang dilakukan suporter selama Liga 1 bergulir. Beberapa kali PSSI menjatuhkan hukuman pertandingan tanpa penonton sesuai dengan jenis pelanggaran. Kesebelasan-kesebelasan Liga Indonesia di demam isu kemudian seperti, Borneo FC, PSS Sleman, Persija Jakarta, dan Persib Bandung pernah mendapat eksekusi tersebut.

Tidak hanya di Indonesia, memperlihatkan eksekusi pada suporter untuk tidak tiba ke stadion juga pernah terjadi di sepakbola internasional. Tim nasional Kroasia pernah melakoni berkelahi sangkar menghadapi Islandia pada 12 November 2016 kemudian tanpa pinjaman suporter, akhir ulah para suporternya sendiri. Dalam berkelahi kualifikasi Piala Dunia 2018 melawan Kosovo tanggal 6 November 2016 lalu, para suporter Kroasia terbukti bersalah sesudah menyanyikan lagu anti-Serbia selama pertandingan melawan Kosovo.

Yang teranyar dua bulan lalu, tepatnya 1 Oktober 2017, klub raksasa Spanyol, FC Barcelona juga harus melakoni pertandingan La Liga tanpa penonton ketika menjamu Las Palmas.

Namun, bedanya dengan kasus pertandingan tanpa suporter di Barcelona dengan yang biasa terjadi di Indonesia adalah, dilema politik. Situasi memanas di seluruh wilayah Katalunya sebab adanya referendum masyarakat Katalunya untuk merdeka dan memisahkan diri dari Spanyol. Barcelona bekerjsama ingin menunda pertandingan tersebut, sayangnya undangan El Barca tersebut ditolak oleh Liga Sepakbola Profesional Spanyol (LFP), dan tetapkan pertandingan digelar tanpa penonton.

Pertandingan sebesar dan seatraktif sepakbola terang butuh suporter. Selain sebab setiap kesebelasan butuh pinjaman suporter sebagai motivasi meraih kemenangan, pertandingan tanpa penonton juga sanggup memengaruhi ekonomi sebab tidak ada pemasukan melalui penjualan tiket.

Kesalahan memang patut mendapat hukuman. Tapi hingga kapan eksekusi akan terus menjadi solusi imbas jera bagi suporter? Bukankah mereka layak mendapat pendidikan bagaimana menjadi suporter yang baik dari pihak kesebelasan atau organisasi sepakbola?

Bahkan salah satu hak asasi insan yang harus didapat oleh seluruh insan di dunia yaitu hak mendapat pendidikan. Jadi, lebih baik memperlihatkan pendidikan kepada para suporter untuk menjadi suporter yang sportif dan berperilaku baik, demi menjaga nama baik sepakbola Indonesia.

Mengingat 10 Desember diperingati sebagai hari HAM internasional, semoga otoritas sepak bola internasional dan domestik segera menciptakan peraturan dan pendidikan khusus untuk suporter, sehingga tidak ada lagi kasus kericuhan dan pelanggaran oleh suporter, yang menciptakan mereka kehilangan hak tiba menonton pertandingan pribadi di stadion.

Dengan begitu, tentunya setiap pertandingan di stadion akan selalu meriah, dihiasi aneka macam koreografi, lagu-lagu penuh semangat, juga teriakan-teriakan motivasi, dengan satu tujuan: memberi warna dalam dunia sepakbola.

Penulis : Muhammad Fajar Rivaldi yaitu Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Biasa berkicau di akun Twitter @RivaldiFF99

Jumat, 26 Januari 2018

Sangat Viral Instruktur Psm Sayangkan Agresi Pelemparan Botol


Pelatih PSM Makasar Robert Rene Alberts menyayangkan adanya agresi pelemparan botol yang dilakukan oknum suporter Persib Bandung. Menurut Rene, suporter harusnya bersikap lebih dewasa.



Persib kalah 0-1 dari PSM dalam lanjutan Piala Presiden 2018, di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, Jumat (26/1/2018) malam. Dengan hasil tersebut, Persib gagal lolos ke babak selanjutnya dan menciptakan ribuan bobotoh kecewa.

Sejumlah suporter yang kecewa meluapkan kekesalannya dengan melaksanakan pelemparan botol ke area lapangan dan menyalakan flare. Hal ini menciptakan suasana sedikit tidak kondusif.

"Kita tiba ke salah satu tim besar dengan suporter terbaik di negara ini. Atmosfer pertandingan fantastis. Sayangnya ada beberapa suporter yang tidak tanggung jawab ini merusak keindahan sepakbola. Ini liga belum mulai," ucap Rene dalam konferensi pers seusai laga.

Apalagi, lanjut Rene, bukan hanya botol minuman plastik yang mereka lempar. Tapi juga botol berbahan beling dan batu. Tentu itu sangat membahayakan pemain.

"Orang-orang tadi itu, mereka melempar botol beling dan batu. Kita pegang (buktinya). Ini dapat sangat melukai. Ini belum liga. Saya harap suporter-suporter dapat diberi edukasi. Sepakbola itu persoalan menang dan kalah," ujarnya.

Mengenai hasil pada pertandingan, Rene mengaku cukup senang. Meski kemenangan itu tidak cukup untuk mengantar PSM lolos dari babak penyisihan grup, tapi itu bukan persoalan baginya.

Sejak awal Rene tidak mematok sasaran apapun dalam ajang pramusim ini. Dia hanya ingin mengukur performa tim melalui turnamen Piala Presiden sebelum kompetisi yang sebenarnya dimulai.

Selain itu, Rene memanfaatkan Piala Presiden ini untuk memberi pengalaman bermain kepada pemain-pemain mudanya.

"Ini hanya pramusim buat saya. Kita berbagi (tim) di pramusim ini. Oleh alasannya itu, kita memakai pemain U-19 dan U-21 kita. Kita ingin berbagi pemain. Kita manfaatkan untuk kembangkan pemain kita," ucap Rene.

Tapi ia melihat justru ada suasana berbeda dalam ajang pramusim ini. Sejumlah tim terkesan betul-betul mematok sasaran tinggi dalam turnamen kali ini. Bahkan, ia merasa ada kompetisi sebelum kompetisi sebenarnya dimulai.

"Namun oleh alasannya alamnya di sini di sepakbola ini. Karena uang hadiah jadi ibarat ada kompetesi sebelum kompetisi sesungguhnya. Dan ini tidak anggun untuk sepakbola Indonesia," kata instruktur asal Belanda itu. (detiksport.com)

Sangat Viral Instruktur Psm Sayangkan Agresi Pelemparan Botol


Pelatih PSM Makasar Robert Rene Alberts menyayangkan adanya agresi pelemparan botol yang dilakukan oknum suporter Persib Bandung. Menurut Rene, suporter harusnya bersikap lebih dewasa.



Persib kalah 0-1 dari PSM dalam lanjutan Piala Presiden 2018, di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, Jumat (26/1/2018) malam. Dengan hasil tersebut, Persib gagal lolos ke babak selanjutnya dan menciptakan ribuan bobotoh kecewa.

Sejumlah suporter yang kecewa meluapkan kekesalannya dengan melaksanakan pelemparan botol ke area lapangan dan menyalakan flare. Hal ini menciptakan suasana sedikit tidak kondusif.

"Kita tiba ke salah satu tim besar dengan suporter terbaik di negara ini. Atmosfer pertandingan fantastis. Sayangnya ada beberapa suporter yang tidak tanggung jawab ini merusak keindahan sepakbola. Ini liga belum mulai," ucap Rene dalam konferensi pers seusai laga.

Apalagi, lanjut Rene, bukan hanya botol minuman plastik yang mereka lempar. Tapi juga botol berbahan beling dan batu. Tentu itu sangat membahayakan pemain.

"Orang-orang tadi itu, mereka melempar botol beling dan batu. Kita pegang (buktinya). Ini dapat sangat melukai. Ini belum liga. Saya harap suporter-suporter dapat diberi edukasi. Sepakbola itu persoalan menang dan kalah," ujarnya.

Mengenai hasil pada pertandingan, Rene mengaku cukup senang. Meski kemenangan itu tidak cukup untuk mengantar PSM lolos dari babak penyisihan grup, tapi itu bukan persoalan baginya.

Sejak awal Rene tidak mematok sasaran apapun dalam ajang pramusim ini. Dia hanya ingin mengukur performa tim melalui turnamen Piala Presiden sebelum kompetisi yang sebenarnya dimulai.

Selain itu, Rene memanfaatkan Piala Presiden ini untuk memberi pengalaman bermain kepada pemain-pemain mudanya.

"Ini hanya pramusim buat saya. Kita berbagi (tim) di pramusim ini. Oleh alasannya itu, kita memakai pemain U-19 dan U-21 kita. Kita ingin berbagi pemain. Kita manfaatkan untuk kembangkan pemain kita," ucap Rene.

Tapi ia melihat justru ada suasana berbeda dalam ajang pramusim ini. Sejumlah tim terkesan betul-betul mematok sasaran tinggi dalam turnamen kali ini. Bahkan, ia merasa ada kompetisi sebelum kompetisi sebenarnya dimulai.

"Namun oleh alasannya alamnya di sini di sepakbola ini. Karena uang hadiah jadi ibarat ada kompetesi sebelum kompetisi sesungguhnya. Dan ini tidak anggun untuk sepakbola Indonesia," kata instruktur asal Belanda itu. (detiksport.com)

Minggu, 17 Desember 2017

Sangat Viral Video Penyelarahan Trofi Juara Piala Dunia Antar Klub 2017 Dan Selebrasi Real Madrid



Real Madrid menjadi klub pertama yang meraih dua gelar juara Piala Dunia Antarklub secara beruntun.

Secara keseluruhan, El Real telah mengoleksi enam titel juara pada turnamen antarklub dunia. Sebelumnya, mereka menjadi kampiun di Piala Intercontinental pada 1960, 1998, dan 2002.

Real Madrid equal the record for most FIFA Club World Cup trophies held by FC Barcelona (3). Corinthians (2) are the only other team to have won it multiple times. Combined with Intercontinental Cup, they extend their record to six.

Real Madrid tampil menekan ketika bersua Gremio di Zayed Sports City Stadium, Sabtu (16/12/2017). Berdasarkan statistik di situs resmi FIFA, Madrid mencatatkan 62 persen penguasaan bola, berbanding 38 persen milik Gremio.

Selain itu, klub asuhan Zinedine Zidane tersebut memperoleh tujuh peluang anggun dari 20 kesempatan. Di kubu Gremio, hanya melepaskan satu tembakan tanpa ada satu pun yang mengarah ke gawang.

Bermain lebih banyak didominasi semenjak menit awal, Madrid mengunci kemenangan dengan skor 1-0. Gol tunggal Real Madrid disarangkan Cristiano Ronaldo pada menit ke-53.