This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 29 Januari 2018

Sangat Viral Lubang Hitam Real Madrid

 Dua trend terakhir yaitu milik Real Madrid Sangat Viral Lubang Hitam Real Madrid

Gerbang krisis semakin dekat. Mereka bangkit di daerah itu, dirundung kecemasan. Real Madrid, hasil buruk, disusul buruknya penampilan, kemudian penurunan performa. Hingga pertengahan trend 2017/2018, Real Madrid sudah tertinggal 16 poin dari Barcelona. Lubang hitam itu membesar, menyeret Los Blancos ke dalamnya.

Dua trend terakhir yaitu milik Real Madrid, terutama ketika kita berbicara perihal kompetisi Eropa. Menjadi klub pertama yang memecahkan rekor menjuarai Liga Champions dua kali berurutan, skuat Madrid dianggap yang paling tangguh selama satu dasawarsa terakhir.

Perpaduan pemain muda dan senior, cara bermain yang sederhana, dan kebijakan rotasi. Kunci menjadi penguasa.

Dari lini belakang, Madrid diberkahi dengan dua bek sayap yang termasuk terbaik di dunia, Dani Carvajal dan Marcelo. Untuk posisi bek tengah, Sergio Ramos, bek tangguh itu, bersanding dengan Raphael Varane. Bek berarah Prancis ini dipandang sebagai salah satu bek muda terbaik di dunia, yang menyerap eksklusif ilmu bertahan kelas dunia dari Ramos.

Bergeser ke lini tengah, komposisi gelandang yang dimiliki Madrid merupakan perpaduan antara diri yang tangguh, pemain-pemain cerdas sebagai sumur kreativitas, dan ketajaman yang bisa diandalkan. Adalah trio Casemiro, Toni Kroos, dan Luka Modric, yang mengawal lini tengah Madrid. Luar biasanya, trio yang sudah sebagus itu, masih disokong pemain-pemain muda dengan potensi besar.

Kita tengah berbicara Mateo Kovacic, Dani Ceballos, sampai Isco Alarcon. Ketiganya merupakan penyaji kreativitas, ketajaman dari lini kedua, dan kemampuan mengendalikan permainan. Di atas kertas, masa depan lini tengah Madrid sudah terjamin.

Bergeser ke lini depan, trio BBC, Karim Benzema, Gareth Bale, dan Cristiano Ronaldo, yaitu satu dari sedikit trio penyerang paling berbahaya di dunia dikala ini. Ketika berada dalam performa terbaik, hampir tak ada bek lawan yang bisa menghentikan ketiganya. Tak hanya ketajaman, ketiga menghadirkan determinasi dan mental juara.

“Suasana surgawi” di atas hanya terjadi ketika semua personel, ditambah performa pelatih, berada di level tertinggi. Namun nyatanya, tak ada yang infinit di sepak bola. Seperti dua sisi koin, menyerupai cuaca yang tiba silih berganti. Kejayaan, berjalan bergandengan dengan keterpurukan. Masa-masa bahagia, bersanding dengan krisis.

Mengapa?

Di atas kertas, Madrid yaitu tim terbaik. Namun di atas lapangan, Los Merengues tak berbeda dengan semua klub di dunia. Manusia yang bermain berkawan karib dengan kesalahan. Dan di sepak bola, penurunan performa tak bisa dihindari. Situasi semakin runyam ketika karib penurunan performa tiba menyapa: cedera.

Dimulai ketika Carvajal harus menepi cukup usang alasannya cedera. Mulai dari cedera otot, hamstring, sampai problem pada jantungnya. Setelah Carvajal, menyusul Varane dan Marcelo. Ketika anggota tim utama tak bermain, pemain pelapis belum bisa menyajikan level performa menyerupai yang diharapkan.

Masalah yang sama terjadi di dua lini lainnya, tengah dan depan. Kovacic terutama, yang sungguh jarang mendapat menit bermain, kesulitan mencapai kembali level terbaik menyerupai ketika berseragam Internazionale Milano. Ceballos? Pemain muda Spanyol yang menonjol di Piala Eropa U-21 tahun kemudian itu pun tak mendapat kepercayaan seluas yang diharapkan.

Kemampuan di atas kertas, hanya akan menjadi sebatas catatan “di atas kertas” saja ketika si pemain tak mendapat kesempatan yang dibutuhkan. Situasi ini menjadi problem besar ketika pemain dari tim utama membutuhkan rotasi.

Musim lalu, ketika Madrid hampir tak terbendung, Zinedine Zidane bisa melaksanakan rotasi. Kebijakan yang menjadi kunci tangguhnya Madrid di Liga Champions.

Musim lalu, ketika bermain di La Liga atau Copa del Rey, Zidane bisa mengistirahatkan sampai sembilan pemain utama dan memberi kepercayaan kepada Alvaro Morata, James Rodriguez, Danilo, sampai Pepe. Pemain-pemain “berkualitas” yang hengkang di awal trend 2017/2018. Pemain-pemain “berkualitas” yang tak menurunkan kualitas tim.

Pemain-pemain yang hengkang tersebut, didukung pemain-pemain muda yang melesat ketika mendapat kepercayaan. Kita tengah berbicara Isco dan Marco Asensio. Ketika Bale cedera, Isco menjadi pengganti yang tak hanya “sepadan”, namun memberi dimensi yang berbeda. Asensio, kemunculannya tak terduga, tak terbaca lawan.

Ketika performa kelas dunia dua pemain ini bertahap menurun, Madrid tak punya solusi. Perlu menjadi catatan, Madrid tak punya pengganti langsung, dengan kualitas yang tak jauh, untuk Ronaldo, Bale, dan Benzema. Situasi ini bisa menjadi “krisis baru” ketika Madrid akan dipaksa berbelanja dalam jumlah luar biasa besar untuk mencari penerus ketiganya.

Bibit-bibit krisis itu sudah terasa ketika Madrid tak punya solusi mengembalikan ketajaman Benzema dan Ronaldo. Borja Mayoral, yang menjadi pengganti Morata, tak mendapat kepercayaan seluas mungkin untuk bermain. Segala keputusan untuk terus memainkan Benzema dan Ronaldo ketika keduanya tengah puasa gol mengakibatkan sorotan mengarah kepada Zidane.

Ke mana kebijakan rotasi yang menciptakan Madrid tetap segar menyerupai dulu? Ke mana variasi cara bermain yang menciptakan Madrid semakin berbahaya ketika mendapat tekanan?

Ketinggalan 16 poin dari Barcelona di La Liga yaitu alarm yang berbunyi nyaring. Jika respons terbaik tak bisa ditunjukkan Zidane, lubang hitam itu akan menelan segalanya. Menjebak Madrid ke dimenasi yang aneh bagi mereka: dimensi krisis!

Penulus : Yamadipati Seno, Koki Arsenal’s Kitchen (@arsenalskitchen)

Sangat Viral Lubang Hitam Real Madrid

 Dua trend terakhir yaitu milik Real Madrid Sangat Viral Lubang Hitam Real Madrid

Gerbang krisis semakin dekat. Mereka bangkit di daerah itu, dirundung kecemasan. Real Madrid, hasil buruk, disusul buruknya penampilan, kemudian penurunan performa. Hingga pertengahan trend 2017/2018, Real Madrid sudah tertinggal 16 poin dari Barcelona. Lubang hitam itu membesar, menyeret Los Blancos ke dalamnya.

Dua trend terakhir yaitu milik Real Madrid, terutama ketika kita berbicara perihal kompetisi Eropa. Menjadi klub pertama yang memecahkan rekor menjuarai Liga Champions dua kali berurutan, skuat Madrid dianggap yang paling tangguh selama satu dasawarsa terakhir.

Perpaduan pemain muda dan senior, cara bermain yang sederhana, dan kebijakan rotasi. Kunci menjadi penguasa.

Dari lini belakang, Madrid diberkahi dengan dua bek sayap yang termasuk terbaik di dunia, Dani Carvajal dan Marcelo. Untuk posisi bek tengah, Sergio Ramos, bek tangguh itu, bersanding dengan Raphael Varane. Bek berarah Prancis ini dipandang sebagai salah satu bek muda terbaik di dunia, yang menyerap eksklusif ilmu bertahan kelas dunia dari Ramos.

Bergeser ke lini tengah, komposisi gelandang yang dimiliki Madrid merupakan perpaduan antara diri yang tangguh, pemain-pemain cerdas sebagai sumur kreativitas, dan ketajaman yang bisa diandalkan. Adalah trio Casemiro, Toni Kroos, dan Luka Modric, yang mengawal lini tengah Madrid. Luar biasanya, trio yang sudah sebagus itu, masih disokong pemain-pemain muda dengan potensi besar.

Kita tengah berbicara Mateo Kovacic, Dani Ceballos, sampai Isco Alarcon. Ketiganya merupakan penyaji kreativitas, ketajaman dari lini kedua, dan kemampuan mengendalikan permainan. Di atas kertas, masa depan lini tengah Madrid sudah terjamin.

Bergeser ke lini depan, trio BBC, Karim Benzema, Gareth Bale, dan Cristiano Ronaldo, yaitu satu dari sedikit trio penyerang paling berbahaya di dunia dikala ini. Ketika berada dalam performa terbaik, hampir tak ada bek lawan yang bisa menghentikan ketiganya. Tak hanya ketajaman, ketiga menghadirkan determinasi dan mental juara.

“Suasana surgawi” di atas hanya terjadi ketika semua personel, ditambah performa pelatih, berada di level tertinggi. Namun nyatanya, tak ada yang infinit di sepak bola. Seperti dua sisi koin, menyerupai cuaca yang tiba silih berganti. Kejayaan, berjalan bergandengan dengan keterpurukan. Masa-masa bahagia, bersanding dengan krisis.

Mengapa?

Di atas kertas, Madrid yaitu tim terbaik. Namun di atas lapangan, Los Merengues tak berbeda dengan semua klub di dunia. Manusia yang bermain berkawan karib dengan kesalahan. Dan di sepak bola, penurunan performa tak bisa dihindari. Situasi semakin runyam ketika karib penurunan performa tiba menyapa: cedera.

Dimulai ketika Carvajal harus menepi cukup usang alasannya cedera. Mulai dari cedera otot, hamstring, sampai problem pada jantungnya. Setelah Carvajal, menyusul Varane dan Marcelo. Ketika anggota tim utama tak bermain, pemain pelapis belum bisa menyajikan level performa menyerupai yang diharapkan.

Masalah yang sama terjadi di dua lini lainnya, tengah dan depan. Kovacic terutama, yang sungguh jarang mendapat menit bermain, kesulitan mencapai kembali level terbaik menyerupai ketika berseragam Internazionale Milano. Ceballos? Pemain muda Spanyol yang menonjol di Piala Eropa U-21 tahun kemudian itu pun tak mendapat kepercayaan seluas yang diharapkan.

Kemampuan di atas kertas, hanya akan menjadi sebatas catatan “di atas kertas” saja ketika si pemain tak mendapat kesempatan yang dibutuhkan. Situasi ini menjadi problem besar ketika pemain dari tim utama membutuhkan rotasi.

Musim lalu, ketika Madrid hampir tak terbendung, Zinedine Zidane bisa melaksanakan rotasi. Kebijakan yang menjadi kunci tangguhnya Madrid di Liga Champions.

Musim lalu, ketika bermain di La Liga atau Copa del Rey, Zidane bisa mengistirahatkan sampai sembilan pemain utama dan memberi kepercayaan kepada Alvaro Morata, James Rodriguez, Danilo, sampai Pepe. Pemain-pemain “berkualitas” yang hengkang di awal trend 2017/2018. Pemain-pemain “berkualitas” yang tak menurunkan kualitas tim.

Pemain-pemain yang hengkang tersebut, didukung pemain-pemain muda yang melesat ketika mendapat kepercayaan. Kita tengah berbicara Isco dan Marco Asensio. Ketika Bale cedera, Isco menjadi pengganti yang tak hanya “sepadan”, namun memberi dimensi yang berbeda. Asensio, kemunculannya tak terduga, tak terbaca lawan.

Ketika performa kelas dunia dua pemain ini bertahap menurun, Madrid tak punya solusi. Perlu menjadi catatan, Madrid tak punya pengganti langsung, dengan kualitas yang tak jauh, untuk Ronaldo, Bale, dan Benzema. Situasi ini bisa menjadi “krisis baru” ketika Madrid akan dipaksa berbelanja dalam jumlah luar biasa besar untuk mencari penerus ketiganya.

Bibit-bibit krisis itu sudah terasa ketika Madrid tak punya solusi mengembalikan ketajaman Benzema dan Ronaldo. Borja Mayoral, yang menjadi pengganti Morata, tak mendapat kepercayaan seluas mungkin untuk bermain. Segala keputusan untuk terus memainkan Benzema dan Ronaldo ketika keduanya tengah puasa gol mengakibatkan sorotan mengarah kepada Zidane.

Ke mana kebijakan rotasi yang menciptakan Madrid tetap segar menyerupai dulu? Ke mana variasi cara bermain yang menciptakan Madrid semakin berbahaya ketika mendapat tekanan?

Ketinggalan 16 poin dari Barcelona di La Liga yaitu alarm yang berbunyi nyaring. Jika respons terbaik tak bisa ditunjukkan Zidane, lubang hitam itu akan menelan segalanya. Menjebak Madrid ke dimenasi yang aneh bagi mereka: dimensi krisis!

Penulus : Yamadipati Seno, Koki Arsenal’s Kitchen (@arsenalskitchen)

Sangat Viral Lubang Hitam Real Madrid

 Dua trend terakhir yaitu milik Real Madrid Sangat Viral Lubang Hitam Real Madrid

Gerbang krisis semakin dekat. Mereka bangkit di daerah itu, dirundung kecemasan. Real Madrid, hasil buruk, disusul buruknya penampilan, kemudian penurunan performa. Hingga pertengahan trend 2017/2018, Real Madrid sudah tertinggal 16 poin dari Barcelona. Lubang hitam itu membesar, menyeret Los Blancos ke dalamnya.

Dua trend terakhir yaitu milik Real Madrid, terutama ketika kita berbicara perihal kompetisi Eropa. Menjadi klub pertama yang memecahkan rekor menjuarai Liga Champions dua kali berurutan, skuat Madrid dianggap yang paling tangguh selama satu dasawarsa terakhir.

Perpaduan pemain muda dan senior, cara bermain yang sederhana, dan kebijakan rotasi. Kunci menjadi penguasa.

Dari lini belakang, Madrid diberkahi dengan dua bek sayap yang termasuk terbaik di dunia, Dani Carvajal dan Marcelo. Untuk posisi bek tengah, Sergio Ramos, bek tangguh itu, bersanding dengan Raphael Varane. Bek berarah Prancis ini dipandang sebagai salah satu bek muda terbaik di dunia, yang menyerap eksklusif ilmu bertahan kelas dunia dari Ramos.

Bergeser ke lini tengah, komposisi gelandang yang dimiliki Madrid merupakan perpaduan antara diri yang tangguh, pemain-pemain cerdas sebagai sumur kreativitas, dan ketajaman yang bisa diandalkan. Adalah trio Casemiro, Toni Kroos, dan Luka Modric, yang mengawal lini tengah Madrid. Luar biasanya, trio yang sudah sebagus itu, masih disokong pemain-pemain muda dengan potensi besar.

Kita tengah berbicara Mateo Kovacic, Dani Ceballos, sampai Isco Alarcon. Ketiganya merupakan penyaji kreativitas, ketajaman dari lini kedua, dan kemampuan mengendalikan permainan. Di atas kertas, masa depan lini tengah Madrid sudah terjamin.

Bergeser ke lini depan, trio BBC, Karim Benzema, Gareth Bale, dan Cristiano Ronaldo, yaitu satu dari sedikit trio penyerang paling berbahaya di dunia dikala ini. Ketika berada dalam performa terbaik, hampir tak ada bek lawan yang bisa menghentikan ketiganya. Tak hanya ketajaman, ketiga menghadirkan determinasi dan mental juara.

“Suasana surgawi” di atas hanya terjadi ketika semua personel, ditambah performa pelatih, berada di level tertinggi. Namun nyatanya, tak ada yang infinit di sepak bola. Seperti dua sisi koin, menyerupai cuaca yang tiba silih berganti. Kejayaan, berjalan bergandengan dengan keterpurukan. Masa-masa bahagia, bersanding dengan krisis.

Mengapa?

Di atas kertas, Madrid yaitu tim terbaik. Namun di atas lapangan, Los Merengues tak berbeda dengan semua klub di dunia. Manusia yang bermain berkawan karib dengan kesalahan. Dan di sepak bola, penurunan performa tak bisa dihindari. Situasi semakin runyam ketika karib penurunan performa tiba menyapa: cedera.

Dimulai ketika Carvajal harus menepi cukup usang alasannya cedera. Mulai dari cedera otot, hamstring, sampai problem pada jantungnya. Setelah Carvajal, menyusul Varane dan Marcelo. Ketika anggota tim utama tak bermain, pemain pelapis belum bisa menyajikan level performa menyerupai yang diharapkan.

Masalah yang sama terjadi di dua lini lainnya, tengah dan depan. Kovacic terutama, yang sungguh jarang mendapat menit bermain, kesulitan mencapai kembali level terbaik menyerupai ketika berseragam Internazionale Milano. Ceballos? Pemain muda Spanyol yang menonjol di Piala Eropa U-21 tahun kemudian itu pun tak mendapat kepercayaan seluas yang diharapkan.

Kemampuan di atas kertas, hanya akan menjadi sebatas catatan “di atas kertas” saja ketika si pemain tak mendapat kesempatan yang dibutuhkan. Situasi ini menjadi problem besar ketika pemain dari tim utama membutuhkan rotasi.

Musim lalu, ketika Madrid hampir tak terbendung, Zinedine Zidane bisa melaksanakan rotasi. Kebijakan yang menjadi kunci tangguhnya Madrid di Liga Champions.

Musim lalu, ketika bermain di La Liga atau Copa del Rey, Zidane bisa mengistirahatkan sampai sembilan pemain utama dan memberi kepercayaan kepada Alvaro Morata, James Rodriguez, Danilo, sampai Pepe. Pemain-pemain “berkualitas” yang hengkang di awal trend 2017/2018. Pemain-pemain “berkualitas” yang tak menurunkan kualitas tim.

Pemain-pemain yang hengkang tersebut, didukung pemain-pemain muda yang melesat ketika mendapat kepercayaan. Kita tengah berbicara Isco dan Marco Asensio. Ketika Bale cedera, Isco menjadi pengganti yang tak hanya “sepadan”, namun memberi dimensi yang berbeda. Asensio, kemunculannya tak terduga, tak terbaca lawan.

Ketika performa kelas dunia dua pemain ini bertahap menurun, Madrid tak punya solusi. Perlu menjadi catatan, Madrid tak punya pengganti langsung, dengan kualitas yang tak jauh, untuk Ronaldo, Bale, dan Benzema. Situasi ini bisa menjadi “krisis baru” ketika Madrid akan dipaksa berbelanja dalam jumlah luar biasa besar untuk mencari penerus ketiganya.

Bibit-bibit krisis itu sudah terasa ketika Madrid tak punya solusi mengembalikan ketajaman Benzema dan Ronaldo. Borja Mayoral, yang menjadi pengganti Morata, tak mendapat kepercayaan seluas mungkin untuk bermain. Segala keputusan untuk terus memainkan Benzema dan Ronaldo ketika keduanya tengah puasa gol mengakibatkan sorotan mengarah kepada Zidane.

Ke mana kebijakan rotasi yang menciptakan Madrid tetap segar menyerupai dulu? Ke mana variasi cara bermain yang menciptakan Madrid semakin berbahaya ketika mendapat tekanan?

Ketinggalan 16 poin dari Barcelona di La Liga yaitu alarm yang berbunyi nyaring. Jika respons terbaik tak bisa ditunjukkan Zidane, lubang hitam itu akan menelan segalanya. Menjebak Madrid ke dimenasi yang aneh bagi mereka: dimensi krisis!

Penulus : Yamadipati Seno, Koki Arsenal’s Kitchen (@arsenalskitchen)

Minggu, 28 Januari 2018

Sangat Viral Ronaldo Sang Penghibur


Cristiano Ronaldo yaitu “keindahan”. Menyaksikan aksi-aksi penyerang andalan Real Madrid itu di lapangan hijau, menyerupai melihat keindahan sepak bola itu sendiri.

Oh.. tidak..Tentu saja tidak semua oke dengan pernyataan di atas. Para cules, alias pendukung fanatik Barcelona, niscaya akan jadi barisan terdepan untuk mendebat pernyataan di atas.

Maklum, di La Liga Spanyol, perseteruan Real Madrid dan Barcelona sudah mendarah daging. Musim ini, rivalitas keduanya bahkan makin menjadi, sebab pembuktian yang terbaik di antara mereka harus ditentukan sampai tabrak terakhir kompetisi.

“Kami juga punya Lionel Messi. Dia terang lebih hebat daripada Ronaldo!” mungkin begitu kira-kira suporter Barcelona mengklaim.

Messi, menyerupai juga Ronaldo memang merupakan pemain terbaik dunia. Parameternya jelas; keduanya mendominasi peserta penghargaan (FIFA) Ballon d’Or sembilan tahun terakhir. (FIFA) Ballon d’Or yaitu penghargaan untuk pemain terbaik di dunia. Otomatis, pemenangnya “berhak” mengklaim sebagai pemain terhebat di kolong jagad.

Soal torehan gol, Messi juga tak kalah dari Ronaldo. Itu sahih. Bahkan, di La Liga demam isu ini, koleksi gol Messi jauh lebih banyak daripada Ronaldo. Hingga La Liga menyisakan satu tabrak lagi, Messi telah mengoleksi 35 gol, unggul 11 gol dari Ronaldo. Jelas, secara statistik, Messi tak kalah dari Ronaldo.

Namun, soal verbal di lapangan, soal kemampuan “menjual diri”, sulit disangkal, Ronaldo mempunyai gaya khas tersendiri, yang tak dimiliki bintang lapangan hijau lainnya. Kemampuannya ini yang menciptakan para penggemar sepak bola, sadar atau tidak, suka atau tidak, merasa terhibur.

Ronaldo kerap bisa memberi warna lain di lapangan. Bukan hanya soal tekniknya yang memang di atas rata-rata, namun beliau juga punya ekspresi-ekspresi yang beliau “kemas” menjadi sebuah drama.

Ronaldo yaitu sutradara sekaligus bintang film utama setiap detik show-nya di lapangan hijau.

Jadi Viral

Tengok saja ekspresinya ketika gagal memanfaatkan peluang di depan gawang.  Atau, perhatikan mimiknya, yang memelas, ketika dilanggar pemain lawan. Bahkan, ketika memprotes wasit pun, pemain asal Portugal ini punya gaya tersendiri.

Belum lagi aksi-aksi selebrasinya usai mencetak gol. Bahkan, ada satu foto selebrasi Ronaldo yang jadi viral dan terus beredar di dunia maya. Yaitu ketika beliau melepas kostum Real Madrid, mempertontonkan tubuhnya yang berotot usai mencetak gol ke gawang Atletico Madrid di final Liga Champions 2015/16. Epic, kata anak muda sekarang.

Di luar itu, gayanya yang sedikit arogan, angkuh, justru banyak menciptakan orang penasaran. Emosinya yang meledak-ledak, ambisinya dalam bermain, seolah  Real Madrid yaitu dirinya, justru memperlihatkan napas khusus setiap pertunjukannya.

Sadar atau tidak, setiap menyaksikan pertandingan Real Madrid, orang selalu menunggu, agresi apa lagi yang akan dipertontonkan Ronaldo. Situasinya menyerupai keinginan pengunjung panggung hiburan, yang menanti sang pengibur memberi mereka kepuasan.

Penulis : Edu Krisnadefa @edukrisnadefa

Sangat Viral Ronaldo Sang Penghibur


Cristiano Ronaldo yaitu “keindahan”. Menyaksikan aksi-aksi penyerang andalan Real Madrid itu di lapangan hijau, menyerupai melihat keindahan sepak bola itu sendiri.

Oh.. tidak..Tentu saja tidak semua oke dengan pernyataan di atas. Para cules, alias pendukung fanatik Barcelona, niscaya akan jadi barisan terdepan untuk mendebat pernyataan di atas.

Maklum, di La Liga Spanyol, perseteruan Real Madrid dan Barcelona sudah mendarah daging. Musim ini, rivalitas keduanya bahkan makin menjadi, sebab pembuktian yang terbaik di antara mereka harus ditentukan sampai tabrak terakhir kompetisi.

“Kami juga punya Lionel Messi. Dia terang lebih hebat daripada Ronaldo!” mungkin begitu kira-kira suporter Barcelona mengklaim.

Messi, menyerupai juga Ronaldo memang merupakan pemain terbaik dunia. Parameternya jelas; keduanya mendominasi peserta penghargaan (FIFA) Ballon d’Or sembilan tahun terakhir. (FIFA) Ballon d’Or yaitu penghargaan untuk pemain terbaik di dunia. Otomatis, pemenangnya “berhak” mengklaim sebagai pemain terhebat di kolong jagad.

Soal torehan gol, Messi juga tak kalah dari Ronaldo. Itu sahih. Bahkan, di La Liga demam isu ini, koleksi gol Messi jauh lebih banyak daripada Ronaldo. Hingga La Liga menyisakan satu tabrak lagi, Messi telah mengoleksi 35 gol, unggul 11 gol dari Ronaldo. Jelas, secara statistik, Messi tak kalah dari Ronaldo.

Namun, soal verbal di lapangan, soal kemampuan “menjual diri”, sulit disangkal, Ronaldo mempunyai gaya khas tersendiri, yang tak dimiliki bintang lapangan hijau lainnya. Kemampuannya ini yang menciptakan para penggemar sepak bola, sadar atau tidak, suka atau tidak, merasa terhibur.

Ronaldo kerap bisa memberi warna lain di lapangan. Bukan hanya soal tekniknya yang memang di atas rata-rata, namun beliau juga punya ekspresi-ekspresi yang beliau “kemas” menjadi sebuah drama.

Ronaldo yaitu sutradara sekaligus bintang film utama setiap detik show-nya di lapangan hijau.

Jadi Viral

Tengok saja ekspresinya ketika gagal memanfaatkan peluang di depan gawang.  Atau, perhatikan mimiknya, yang memelas, ketika dilanggar pemain lawan. Bahkan, ketika memprotes wasit pun, pemain asal Portugal ini punya gaya tersendiri.

Belum lagi aksi-aksi selebrasinya usai mencetak gol. Bahkan, ada satu foto selebrasi Ronaldo yang jadi viral dan terus beredar di dunia maya. Yaitu ketika beliau melepas kostum Real Madrid, mempertontonkan tubuhnya yang berotot usai mencetak gol ke gawang Atletico Madrid di final Liga Champions 2015/16. Epic, kata anak muda sekarang.

Di luar itu, gayanya yang sedikit arogan, angkuh, justru banyak menciptakan orang penasaran. Emosinya yang meledak-ledak, ambisinya dalam bermain, seolah  Real Madrid yaitu dirinya, justru memperlihatkan napas khusus setiap pertunjukannya.

Sadar atau tidak, setiap menyaksikan pertandingan Real Madrid, orang selalu menunggu, agresi apa lagi yang akan dipertontonkan Ronaldo. Situasinya menyerupai keinginan pengunjung panggung hiburan, yang menanti sang pengibur memberi mereka kepuasan.

Penulis : Edu Krisnadefa @edukrisnadefa

Sangat Viral Ronaldo Sang Penghibur


Cristiano Ronaldo yaitu “keindahan”. Menyaksikan aksi-aksi penyerang andalan Real Madrid itu di lapangan hijau, menyerupai melihat keindahan sepak bola itu sendiri.

Oh.. tidak..Tentu saja tidak semua oke dengan pernyataan di atas. Para cules, alias pendukung fanatik Barcelona, niscaya akan jadi barisan terdepan untuk mendebat pernyataan di atas.

Maklum, di La Liga Spanyol, perseteruan Real Madrid dan Barcelona sudah mendarah daging. Musim ini, rivalitas keduanya bahkan makin menjadi, sebab pembuktian yang terbaik di antara mereka harus ditentukan sampai tabrak terakhir kompetisi.

“Kami juga punya Lionel Messi. Dia terang lebih hebat daripada Ronaldo!” mungkin begitu kira-kira suporter Barcelona mengklaim.

Messi, menyerupai juga Ronaldo memang merupakan pemain terbaik dunia. Parameternya jelas; keduanya mendominasi peserta penghargaan (FIFA) Ballon d’Or sembilan tahun terakhir. (FIFA) Ballon d’Or yaitu penghargaan untuk pemain terbaik di dunia. Otomatis, pemenangnya “berhak” mengklaim sebagai pemain terhebat di kolong jagad.

Soal torehan gol, Messi juga tak kalah dari Ronaldo. Itu sahih. Bahkan, di La Liga demam isu ini, koleksi gol Messi jauh lebih banyak daripada Ronaldo. Hingga La Liga menyisakan satu tabrak lagi, Messi telah mengoleksi 35 gol, unggul 11 gol dari Ronaldo. Jelas, secara statistik, Messi tak kalah dari Ronaldo.

Namun, soal verbal di lapangan, soal kemampuan “menjual diri”, sulit disangkal, Ronaldo mempunyai gaya khas tersendiri, yang tak dimiliki bintang lapangan hijau lainnya. Kemampuannya ini yang menciptakan para penggemar sepak bola, sadar atau tidak, suka atau tidak, merasa terhibur.

Ronaldo kerap bisa memberi warna lain di lapangan. Bukan hanya soal tekniknya yang memang di atas rata-rata, namun beliau juga punya ekspresi-ekspresi yang beliau “kemas” menjadi sebuah drama.

Ronaldo yaitu sutradara sekaligus bintang film utama setiap detik show-nya di lapangan hijau.

Jadi Viral

Tengok saja ekspresinya ketika gagal memanfaatkan peluang di depan gawang.  Atau, perhatikan mimiknya, yang memelas, ketika dilanggar pemain lawan. Bahkan, ketika memprotes wasit pun, pemain asal Portugal ini punya gaya tersendiri.

Belum lagi aksi-aksi selebrasinya usai mencetak gol. Bahkan, ada satu foto selebrasi Ronaldo yang jadi viral dan terus beredar di dunia maya. Yaitu ketika beliau melepas kostum Real Madrid, mempertontonkan tubuhnya yang berotot usai mencetak gol ke gawang Atletico Madrid di final Liga Champions 2015/16. Epic, kata anak muda sekarang.

Di luar itu, gayanya yang sedikit arogan, angkuh, justru banyak menciptakan orang penasaran. Emosinya yang meledak-ledak, ambisinya dalam bermain, seolah  Real Madrid yaitu dirinya, justru memperlihatkan napas khusus setiap pertunjukannya.

Sadar atau tidak, setiap menyaksikan pertandingan Real Madrid, orang selalu menunggu, agresi apa lagi yang akan dipertontonkan Ronaldo. Situasinya menyerupai keinginan pengunjung panggung hiburan, yang menanti sang pengibur memberi mereka kepuasan.

Penulis : Edu Krisnadefa @edukrisnadefa

Sangat Viral Menguji Ketangguhan Zidane Di Real Madrid


Tidak ada jalan yang betul-betul lurus dan mulus di dalam kehidupan ini. Selalu ada liku dan tanjakan. Selalu ada batu-batu sandungan. Bukankah Tuhan akan memperlihatkan ujian kepada setiap hamba-Nya?

Rasanya, ujian itu pula yang tengah dihadapi Zinedine Zidane di Real Madrid dikala ini. Setelah semuanya berjalan mulus, kini semuanya seolah salah. Kemenangan, bahkan dari tim lemah di sangkar sendiri pun, sulitnya minta ampun.

Banyak orang bertanya-tanya. Ada apa dengan Madrid? Ada apa dengan Zidane? Maklum, Zidane ialah sang fenomena. Sejak mengambil alih Madrid dari Rafael Benitez dua tahun lalu, ia mempersembahkan delapan dari kemungkinan sepuluh trofi yang bisa diraih Los Blancos.

Berbagai analisis muncul. Berbagai teori juga dibuat. Dari soal perekrutan pemain hingga seni administrasi sang instruktur jadi sorotan. Namun, tak satu pun yang bisa menjadi jawaban atas keterpurukan Real Madrid. Bukankah dengan pemain-pemain dan seni administrasi yang sama, mereka berjaya di Piala Super Spanyol dan Piala Super Eropa?

Dua trofi pada awal animo itu tak mengindikasikan adanya duduk kasus di Santiago Bernabeu. Sebaliknya, itu membersitkan optimisme luar biasa untuk kembali menjadi kampiun di Spanyol dan Eropa. Apalagi, Barcelona yang jadi musuh utama justru kehilangan salah satu andalannya. Neymar hijrah ke Paris Saint-Germain.

Akan tetapi, tiba-tiba saja semuanya macet. Cristiano Ronaldo dan Karim Benzrma kesulitan mencetak gol, Gareth Bale terus berkutat dengan cedera, sedangkan Isco dan Marco Asensio meredup begitu saja sehabis pada awal animo menciptakan banyak orang berdecak kagum.

Anehnya, Los Blancos menuai hasil jelek bukan hanya dikala tampil buruk. Mereka juga menuai hasil yang sama dikala tampil baik. Salah satunya dikala kalah 0-1 dari Villarreal di Santiago Bernabeu. Sampai-sampai, bek kiri Real Madrid, Marcelo hanya bisa berujar, "Bola menyerupai enggan masuk ke gawang lawan."

Serupa Dortmund

Hal yang terjadi pada Madrid dikala ini mengingatkan pada Borussia Dortmund di Bundesliga 1. Mereka memulai animo dengan sempurna. Dalam tujuh langgar awal, Die Schwarzgelben bukan hanya selalu menang. Mereka juga menciptakan clean sheet dalam lima pekan awal. Namun, sehabis itu, tiba-tiba saja roda berputar 180 derajat hingga balasannya instruktur Peter Bosz didepak.

Seperti halnya Zidane dikala ini, Bosz tak bisa menjelaskan keterpurukan Dortmund kecuali menunjuk faktor ketidakberuntungan. Belakangan, Hendrie Kruezen yang jadi ajudan Bosz malah mengungkapkan hal yang agak di luar nalar. "Ini mungkin terdengar aneh. Namun, kami menukik sehabis Lukasz Piszczek cedera," kata ia pada final Desember lalu.

Kata-kata Kruezen sesuai fakta. Namun, tetap saja itu mengundang tawa. Siapa Piszczek hingga sebegitu memilih nasib Dortmund? Dia terang bukan Lionel Messi yang bagi sebagian orang ialah alien. Akan lebih masuk kebijaksanaan jikalau yang bolos ialah Pierre-Emerick Aubameyang.

Piszczek hanyalah seorang bek kanan. Apakah benar kehilangan seorang bek kanan andalan bisa sedemikian fatal? Rasanya, tak akan ada instruktur yang menyampaikan bahwa pemain terpenting di timnya ialah bek kanan.

Di Madrid, sosok menyerupai Piszczek boleh jadi ialah James Rodriguez. Marca bahkan mengungkapkan lima hal yang hilang seiring putusan Los Blancos meminjamkan James ke Bayern Muenchen. Dari donasi gol dan assist, pergerakan di lapangan, hingga pengaruhnya di ruang ganti.

Mungkin juga ia ialah Alvaro Morata. Bersama James, mantan striker Juventus itu juga kerap menyelamatkan Madrid dari situasi sulit. Sepanjang animo lalu, Morata berhasil mencetak 21 gol di semua ajang. Lima di antaranya ialah gol penentu kemenangan.

Ketiadaan kedua pemain ini, juga Pepe, sempat dikeluhkan Cristiano Ronaldo. Pada November tahun lalu, megabintang asal Portugal itu mengatakan, Madrid kehilangan ketiga pemain tersebut. Dia yakin, Madrid tak akan berada dalam situasi sulit andai ketiganya tak dilepas.

Penyerang Real Madrid Cristiano Ronaldo dikala melawan Villarreal di pertandingan Liga Spanyol di stadion Santiago Bernabeu di Madrid, Spanyol (13/1). Gol tunggal Villarreal dicetak Pablo Fornals pada menit-menit final pertandingan. (AP Photo/Paul White)
Satu hal yang pasti, menyerupai dikatakan Kruezen, rangkaian hasil jelek selalu menjadikan imbas negatif terhadap mentalitas pemain. Kata dia, itu menurunkan kepercayaan diri dan bahkan bisa menjadikan friksi di antara pemain.

Hal itu juga mulai dirasakan Zidane. "Mungkin yang menciptakan kami gagal menang ialah duduk kasus mental," kata Zidane usai timnya dikalahkan Villarreal seraya menambahkan, rangkaian hasil jelek niscaya menjadikan tekanan alasannya ialah pemberitaan miring nan bombastis.

Hal yang menarik, Zidane tak kehilangan kepercayaan diri. Dia bahkan menolak untuk mendatangkan pemain gres pada Januari ini. Padahal, tak sedikit orang yang menilai Los Blancos harus mendatangkan seorang bintang baru. Entah itu Harry Kane, Mauro Icardi atau Robert Lewandowski.

Zidane masih yakin, topan niscaya berlalu. Hal terpenting kini ialah tetap bekerja keras dan berjuang dengan segenap kekuatan dalam setiap pertandingan. Setelah kalah dari Barcelona, ia juga meminta bawah umur asuhnya berhenti melihat klasemen La Liga. Terpenting, kata dia, ialah menatap langgar per laga. Melihat klasemen hanya akan menambah beban.

Sialnya, optimisme serupa juga ditunjukan semua instruktur yang sempat menghadapi krisis animo ini. Bosz, Carlo Ancelotti, Frank de Boer, hingga Ronald Koeman memperlihatkan keyakinan tinggi untuk membangkitkan timnya. Namun, pada akhirnya, mereka tak berdaya.

Itu alasannya ialah mereka tak bisa menularkan kepercayaan diri itu kepada bawah umur asuhnya. Inilah yang harus diperhatikan oleh Zidane. Dia wajib menumbuhkan keyakinan untuk berdiri ke dada setiap pemain. Dia harus meyakinkan semua orang bisa menjadi pendekar dan goalgetter.

Keyakinan itu bahkan harus ditanamkan kepada mereka yang selama ini setia berada di dingklik cadangan. Kalau perlu, Zidane harus memperlihatkan kompilasi agresi Ole Gunnar Solskjaer, Jermain Defoe, Peter Crouch, Alexander Zickler atau Nils Petersen. Mereka ialah orang-orang yang bisa mencetak gol walau hanya diberi waktu kurang dari 15 menit di lapangan.

Tanpa itu, nasib Coach Zizou akan sama dengan Bosz, De Boer, Koeman, dan Ancelotti. Apalagi, Madrid sudah terbiasa melaksanakan hal itu. Florentino Perez dikenal kejam. Dia tanpa ampun mendepak Jose Mourinho dan Ancelotti walaupun pada animo sebelumnya memperlihatkan trofi bagi Los Blancos.(*)

Penulis Asep Ginanjar ialah jurnalis dan pengamat sepak bola.