This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 29 Januari 2018

Sangat Viral 2018: Tahun Politik Atau Tahun Sepakbola?



Jika pertanyaan di atas ditanyakan kepada penulis, maka jawabannya ialah Tahun Sepakbola. Atau mungkin sedikit lebih luas 2018 ialah Tahun Olahraga. Di level dunia ada ada pesta sepakbola dunia (World Cup 2018) dan di level Asia ada pesta olahraga multi event Asia Games di Jakarta. Soal politik dan pilkada banyak yang memprediksi bahwa suhu politik akan memanas. Adalah Jusuf Kalla, politikus senior Golkar, sang Wapres, dengan enteng berseloroh: “Hangat di pembicaraan tapi tetap hambar di lapangan. Semua akan mengalir dan pada saatnya akan hambar kembali”. Sebuah statement pemimpin yang menenangkan.

Tahun 2017 sudah berakhir. Jejak-jejak waktu di tahun 2017 secara highlight dengan gampang dan cepat sanggup ditelusuri dengan membuka galeri foto dan status di media sosial. Lalu, selamat tiba 2018. Optimisme dan harapan harus tetap dirawat. Setidaknya 171 tempat akan menggelar pemilihan eksklusif kepala tempat (Pilkada), terdiri dari 17 provinsi, 39 kota dan 115 kabupaten. Parpol yang mengusung bakal calon kepala tempat akan memosisikan kemenangan Pilkada sebagai “babak kualifikasi” dan fondasi untuk sukses dalam Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden yang akan digelar serentak di Tahun 2019. Tahun 2018 ialah tahun politik.

Dalam sebuah ulasan ekonomi 2018 disebutkan Belanja Pemerintah di Tahun 2018 ialah APBN rasa Populis. Begitu banyak anggaran diecer eksklusif ke masyarakat. Semuanya sah-sah saja. Toh selama memberi pengaruh eksklusif kepada masyarakat lapis terendah, akan lebih memberi pengaruh luas, dibanding stimulus dan insentif yang diberikan kepada pelaku ekonomi kelas atas.

Lalu, apakah yang menarik selain melulu soal politik di Tahun 2018? Setidaknya ada dua lagi momentum yang semenjak kini di beberapa spot dibentuk hitung mundur (countdown) yaitu: World Cup 2018 di Rusia dan Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang. Lalu pertanyaan lanjutannya, manakah yang lebih menarik dan menghibur? Politikkah? Sepakbola? Tentu akan ada banyak jawaban. Masing masing akan menjawab dengan argumentasi dan analisisnya masing masing.

Bagi penulis sendiri membuka peluang bahwa kedua-duanya menarik dan justru ada benang merahnya. Bagi Sindhunata, seorang filosof yang juga seorang jurnalis, sepakbola ialah sumber ilham dalam banyak hal, termasuk dalam politik. Dari catatannya kita bisa mengurai satu persatu hubungan antara sepakbola dengan sosial, ekonomi, politik, psikologi, filsafat atau apapun itu. Sindhunata dalam tulisannya, politik yang akan mewarnai sepakbola ataukah sebaliknya: sepakbola akan melebur hiruk pikuk politik menjadi sebuah hiburan?

Antara Cristiano Ronaldo, Ridwan Kamil dan Jokowi

Ada yang tidak mengenal tokoh tokoh di atas? Dalam banyak hal, ketiga tokoh ini ialah sebetulnya “pemain bola yang berpolitik” atau Politikus yang paham Sepakbola. Ronaldo, striker Tim Nasional Portugal dan Klub elit Real Madrid, ialah peraih FIFA Ballon D’Or, penghargaaan pemain sepakbola dunia terbaik sejagat. 4 tahun berturut turut. Dengan penghasilan Rp 5,3 T setahun dan 120.582.603 pengikutnya di media sosial. Dengan kepemimpinnya, Portugal justru menjadi Juara Eropa bukan pada ketika menjadi tuan rumah tahun 2012. Tapi Justru di Tahun 2016. Melawan Perancis yang menjadi tuan rumah dan menjadi unggulan. Kemampuannya memotivasi ketika detik detik tamat final dari dingklik cadangan, ialah menyerupai pemimpin politik yang berdiri di tengah tengah krisis politik. Maka ketika itu, Cristiano Ronaldo ialah “presiden” Portugal. Lalu adakah yang mengenal nama Presiden Portugal? Jangan jangan ada yang menyebut Cristiano Rinaldo, presidennya.

Lalu Ridwan Kamil, seorang arsitek profesional yang kemudiaan menjadi Walikota Bandung. Salah satu kandidat besar lengan berkuasa Gubernur Provinsi Jawa Barat dalam Pilkada 2018. Seperti Cristiano Ronaldo: ganteng, smart dan lihai memaksimalkan media umum dengan follower 3.256.122. Ide-ide nya dalam membangun Kota Bandung mirip skill dribling dan shooting Ronaldo atau Lionel Messi dalam memanfaatkan untuk menjadi gol dalam setiap pertandingan. Selalu menjadi pembeda dan solution maker di tengah kejenuhan dan kebuntuan suatu rutinitas dalam pakem pembangunan yang “business as usual”. Sebagai Walikota Bandung dan juga pendukung Persib, ia dengan lihai memanfaatkan eforia kesuksesan Persib menjadi juara Liga Indonesia untuk larut bersama bobotoh yang juga ialah “potential voter” yang besar.

Sementara Joko Widodo, ialah pemain dengan tipikal pekerja keras. Ahli Percepatan. 5 Tahun cukup baginya untuk meraih jabatan politik yang “wah” : Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta dan Presiden Republik Indonesia dengan penduduk 250 juta jiwa. Meski berperawakan kurus, “klemat klemot” khas orang Jawa Solo, Jokowi ialah antitesa dari agresivitas gol Cristiano Ronaldo atau sang Walikota Ridwan Kamil yang elegan. Maka Jokowi ialah tipikal pemain bertahan (defensif). Dalam sistem defensif ini, pemain hanya betah di wilayahnya sendiri. Bertualang di tempat lawan sebisa-bisanya diminimalkan. Ide untuk menciptakan dan menentukan permainan, inisiatif untuk menyerang, memprovokasi supaya lawan juga mengatakan rujukan permainannya, semua ialah “larangan” dalam birokrasi sistem defensif. Sebaliknya, menanti dan mengharapkan lawan melaksanakan kesalahan, menanti kesempatan “counter”. Jokowi dengan sabar dan setia dibarisan belakang dan bisa mengoptimalkan semua pemain lain di semua lini untuk membentuk tim yang solid dan produktif. Lawan lawan politiknya takluk secara pelan pelan. Ibarat Timnas Italia, menjadi Juara Dunia 2010 atau tim non unggulan Estonia di Piala Dunia 2018 mendatang.

Tahun 2018: Siapakah Makara Pemenang?

Lalu pertanyaannya, di Tahun Politik, di Pilkada 2018, apakah periode politik menyerang atau justru kemenangan bagi politik bertahan? Apakah Cristiano Ronaldo akan kembali berjaya di Wold Cup Rusia? Yang terperinci Belanda, atau identik dengan Ahok, sang penganut filosofi menyerang (total football), tergoda oleh stareginya yang over agresif. Tetapi juga di sisi lain, Timnas Italia, sang penganut ketat politik bertahan sudah gugur di putaran final. Apakah ini bertanda pemain bertahan mirip Jokowi akan mirip itu? Ataukah kejayaan bagi penganut politik populis ala Ridwal Kamil?

Menurut Penulis, di tengah kegalauan yang amat sangat, makin lebarnya antara keinginan dan tuntutan kebutuhan, tekanan ekonomi yang makin berat, inflasi yang tidak terkendali, suku bunga bank yang tidak stabil, pajak yang makin mencekik, maka banyak mahir ekonomi dan futurolog yang memprediksi ekonomi akan bergerak realistis dan bahkan cenderung pesimistis. Para penonton, para pemilih, ataupun masyarakat kebanyakan akan lebih gampang menyukai dan mendapatkan “janji-janji” politik dan taktik permainan yang populis. Permainan politik yang santun dan menenangkan. Yang bisa bertahan dan memaksimalkan kemampuan yang ada untuk mencapai cita-cita impiannya. Sabar bertahan tetapi juga lihai menyerang pada ketika saat yang tepat.

Siapakah ia pemenangnya? Kita tunggu saja dan catat tanggal mainnya. Pilkada serentak telah dimulai semenjak proses registrasi penerima awal Januari 2018 dan akan memuncak pada pemungutan bunyi 27 Juni 2018. Sementara World Cup 2018 telah menentukan 32 penerima putaran final dan akan saling bertarung dari 14 Juni-15 Juli 2018.

Melihat puncak eskalasinya hampir berdekatan, tampaknya informasi Pilkada dan World Cup akan saling merebut headline media massa dan hiruk pikuk di media umum di medio Juli-Juli mendatang. Menurut penulis, situasi psikologis antara pencinta sepakbola dan penikmat politik akan berjalan linier. Tahun 2018 apakah tahun politik atau tahun sepakbola? jawabannya ialah akan bertemu dalam satu benang merah bahwa sepakbola atau politik akan indah apabila prosesnya berjalan dalam suasana yang jujur (fair play), saling menghormati (respect), dan antidiskriminasi dan SARA.

Penulis : M. Ramadhani


Sangat Viral 2018: Tahun Politik Atau Tahun Sepakbola?



Jika pertanyaan di atas ditanyakan kepada penulis, maka jawabannya ialah Tahun Sepakbola. Atau mungkin sedikit lebih luas 2018 ialah Tahun Olahraga. Di level dunia ada ada pesta sepakbola dunia (World Cup 2018) dan di level Asia ada pesta olahraga multi event Asia Games di Jakarta. Soal politik dan pilkada banyak yang memprediksi bahwa suhu politik akan memanas. Adalah Jusuf Kalla, politikus senior Golkar, sang Wapres, dengan enteng berseloroh: “Hangat di pembicaraan tapi tetap hambar di lapangan. Semua akan mengalir dan pada saatnya akan hambar kembali”. Sebuah statement pemimpin yang menenangkan.

Tahun 2017 sudah berakhir. Jejak-jejak waktu di tahun 2017 secara highlight dengan gampang dan cepat sanggup ditelusuri dengan membuka galeri foto dan status di media sosial. Lalu, selamat tiba 2018. Optimisme dan harapan harus tetap dirawat. Setidaknya 171 tempat akan menggelar pemilihan eksklusif kepala tempat (Pilkada), terdiri dari 17 provinsi, 39 kota dan 115 kabupaten. Parpol yang mengusung bakal calon kepala tempat akan memosisikan kemenangan Pilkada sebagai “babak kualifikasi” dan fondasi untuk sukses dalam Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden yang akan digelar serentak di Tahun 2019. Tahun 2018 ialah tahun politik.

Dalam sebuah ulasan ekonomi 2018 disebutkan Belanja Pemerintah di Tahun 2018 ialah APBN rasa Populis. Begitu banyak anggaran diecer eksklusif ke masyarakat. Semuanya sah-sah saja. Toh selama memberi pengaruh eksklusif kepada masyarakat lapis terendah, akan lebih memberi pengaruh luas, dibanding stimulus dan insentif yang diberikan kepada pelaku ekonomi kelas atas.

Lalu, apakah yang menarik selain melulu soal politik di Tahun 2018? Setidaknya ada dua lagi momentum yang semenjak kini di beberapa spot dibentuk hitung mundur (countdown) yaitu: World Cup 2018 di Rusia dan Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang. Lalu pertanyaan lanjutannya, manakah yang lebih menarik dan menghibur? Politikkah? Sepakbola? Tentu akan ada banyak jawaban. Masing masing akan menjawab dengan argumentasi dan analisisnya masing masing.

Bagi penulis sendiri membuka peluang bahwa kedua-duanya menarik dan justru ada benang merahnya. Bagi Sindhunata, seorang filosof yang juga seorang jurnalis, sepakbola ialah sumber ilham dalam banyak hal, termasuk dalam politik. Dari catatannya kita bisa mengurai satu persatu hubungan antara sepakbola dengan sosial, ekonomi, politik, psikologi, filsafat atau apapun itu. Sindhunata dalam tulisannya, politik yang akan mewarnai sepakbola ataukah sebaliknya: sepakbola akan melebur hiruk pikuk politik menjadi sebuah hiburan?

Antara Cristiano Ronaldo, Ridwan Kamil dan Jokowi

Ada yang tidak mengenal tokoh tokoh di atas? Dalam banyak hal, ketiga tokoh ini ialah sebetulnya “pemain bola yang berpolitik” atau Politikus yang paham Sepakbola. Ronaldo, striker Tim Nasional Portugal dan Klub elit Real Madrid, ialah peraih FIFA Ballon D’Or, penghargaaan pemain sepakbola dunia terbaik sejagat. 4 tahun berturut turut. Dengan penghasilan Rp 5,3 T setahun dan 120.582.603 pengikutnya di media sosial. Dengan kepemimpinnya, Portugal justru menjadi Juara Eropa bukan pada ketika menjadi tuan rumah tahun 2012. Tapi Justru di Tahun 2016. Melawan Perancis yang menjadi tuan rumah dan menjadi unggulan. Kemampuannya memotivasi ketika detik detik tamat final dari dingklik cadangan, ialah menyerupai pemimpin politik yang berdiri di tengah tengah krisis politik. Maka ketika itu, Cristiano Ronaldo ialah “presiden” Portugal. Lalu adakah yang mengenal nama Presiden Portugal? Jangan jangan ada yang menyebut Cristiano Rinaldo, presidennya.

Lalu Ridwan Kamil, seorang arsitek profesional yang kemudiaan menjadi Walikota Bandung. Salah satu kandidat besar lengan berkuasa Gubernur Provinsi Jawa Barat dalam Pilkada 2018. Seperti Cristiano Ronaldo: ganteng, smart dan lihai memaksimalkan media umum dengan follower 3.256.122. Ide-ide nya dalam membangun Kota Bandung mirip skill dribling dan shooting Ronaldo atau Lionel Messi dalam memanfaatkan untuk menjadi gol dalam setiap pertandingan. Selalu menjadi pembeda dan solution maker di tengah kejenuhan dan kebuntuan suatu rutinitas dalam pakem pembangunan yang “business as usual”. Sebagai Walikota Bandung dan juga pendukung Persib, ia dengan lihai memanfaatkan eforia kesuksesan Persib menjadi juara Liga Indonesia untuk larut bersama bobotoh yang juga ialah “potential voter” yang besar.

Sementara Joko Widodo, ialah pemain dengan tipikal pekerja keras. Ahli Percepatan. 5 Tahun cukup baginya untuk meraih jabatan politik yang “wah” : Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta dan Presiden Republik Indonesia dengan penduduk 250 juta jiwa. Meski berperawakan kurus, “klemat klemot” khas orang Jawa Solo, Jokowi ialah antitesa dari agresivitas gol Cristiano Ronaldo atau sang Walikota Ridwan Kamil yang elegan. Maka Jokowi ialah tipikal pemain bertahan (defensif). Dalam sistem defensif ini, pemain hanya betah di wilayahnya sendiri. Bertualang di tempat lawan sebisa-bisanya diminimalkan. Ide untuk menciptakan dan menentukan permainan, inisiatif untuk menyerang, memprovokasi supaya lawan juga mengatakan rujukan permainannya, semua ialah “larangan” dalam birokrasi sistem defensif. Sebaliknya, menanti dan mengharapkan lawan melaksanakan kesalahan, menanti kesempatan “counter”. Jokowi dengan sabar dan setia dibarisan belakang dan bisa mengoptimalkan semua pemain lain di semua lini untuk membentuk tim yang solid dan produktif. Lawan lawan politiknya takluk secara pelan pelan. Ibarat Timnas Italia, menjadi Juara Dunia 2010 atau tim non unggulan Estonia di Piala Dunia 2018 mendatang.

Tahun 2018: Siapakah Makara Pemenang?

Lalu pertanyaannya, di Tahun Politik, di Pilkada 2018, apakah periode politik menyerang atau justru kemenangan bagi politik bertahan? Apakah Cristiano Ronaldo akan kembali berjaya di Wold Cup Rusia? Yang terperinci Belanda, atau identik dengan Ahok, sang penganut filosofi menyerang (total football), tergoda oleh stareginya yang over agresif. Tetapi juga di sisi lain, Timnas Italia, sang penganut ketat politik bertahan sudah gugur di putaran final. Apakah ini bertanda pemain bertahan mirip Jokowi akan mirip itu? Ataukah kejayaan bagi penganut politik populis ala Ridwal Kamil?

Menurut Penulis, di tengah kegalauan yang amat sangat, makin lebarnya antara keinginan dan tuntutan kebutuhan, tekanan ekonomi yang makin berat, inflasi yang tidak terkendali, suku bunga bank yang tidak stabil, pajak yang makin mencekik, maka banyak mahir ekonomi dan futurolog yang memprediksi ekonomi akan bergerak realistis dan bahkan cenderung pesimistis. Para penonton, para pemilih, ataupun masyarakat kebanyakan akan lebih gampang menyukai dan mendapatkan “janji-janji” politik dan taktik permainan yang populis. Permainan politik yang santun dan menenangkan. Yang bisa bertahan dan memaksimalkan kemampuan yang ada untuk mencapai cita-cita impiannya. Sabar bertahan tetapi juga lihai menyerang pada ketika saat yang tepat.

Siapakah ia pemenangnya? Kita tunggu saja dan catat tanggal mainnya. Pilkada serentak telah dimulai semenjak proses registrasi penerima awal Januari 2018 dan akan memuncak pada pemungutan bunyi 27 Juni 2018. Sementara World Cup 2018 telah menentukan 32 penerima putaran final dan akan saling bertarung dari 14 Juni-15 Juli 2018.

Melihat puncak eskalasinya hampir berdekatan, tampaknya informasi Pilkada dan World Cup akan saling merebut headline media massa dan hiruk pikuk di media umum di medio Juli-Juli mendatang. Menurut penulis, situasi psikologis antara pencinta sepakbola dan penikmat politik akan berjalan linier. Tahun 2018 apakah tahun politik atau tahun sepakbola? jawabannya ialah akan bertemu dalam satu benang merah bahwa sepakbola atau politik akan indah apabila prosesnya berjalan dalam suasana yang jujur (fair play), saling menghormati (respect), dan antidiskriminasi dan SARA.

Penulis : M. Ramadhani


Sangat Viral 2018: Tahun Politik Atau Tahun Sepakbola?



Jika pertanyaan di atas ditanyakan kepada penulis, maka jawabannya ialah Tahun Sepakbola. Atau mungkin sedikit lebih luas 2018 ialah Tahun Olahraga. Di level dunia ada ada pesta sepakbola dunia (World Cup 2018) dan di level Asia ada pesta olahraga multi event Asia Games di Jakarta. Soal politik dan pilkada banyak yang memprediksi bahwa suhu politik akan memanas. Adalah Jusuf Kalla, politikus senior Golkar, sang Wapres, dengan enteng berseloroh: “Hangat di pembicaraan tapi tetap hambar di lapangan. Semua akan mengalir dan pada saatnya akan hambar kembali”. Sebuah statement pemimpin yang menenangkan.

Tahun 2017 sudah berakhir. Jejak-jejak waktu di tahun 2017 secara highlight dengan gampang dan cepat sanggup ditelusuri dengan membuka galeri foto dan status di media sosial. Lalu, selamat tiba 2018. Optimisme dan harapan harus tetap dirawat. Setidaknya 171 tempat akan menggelar pemilihan eksklusif kepala tempat (Pilkada), terdiri dari 17 provinsi, 39 kota dan 115 kabupaten. Parpol yang mengusung bakal calon kepala tempat akan memosisikan kemenangan Pilkada sebagai “babak kualifikasi” dan fondasi untuk sukses dalam Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden yang akan digelar serentak di Tahun 2019. Tahun 2018 ialah tahun politik.

Dalam sebuah ulasan ekonomi 2018 disebutkan Belanja Pemerintah di Tahun 2018 ialah APBN rasa Populis. Begitu banyak anggaran diecer eksklusif ke masyarakat. Semuanya sah-sah saja. Toh selama memberi pengaruh eksklusif kepada masyarakat lapis terendah, akan lebih memberi pengaruh luas, dibanding stimulus dan insentif yang diberikan kepada pelaku ekonomi kelas atas.

Lalu, apakah yang menarik selain melulu soal politik di Tahun 2018? Setidaknya ada dua lagi momentum yang semenjak kini di beberapa spot dibentuk hitung mundur (countdown) yaitu: World Cup 2018 di Rusia dan Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang. Lalu pertanyaan lanjutannya, manakah yang lebih menarik dan menghibur? Politikkah? Sepakbola? Tentu akan ada banyak jawaban. Masing masing akan menjawab dengan argumentasi dan analisisnya masing masing.

Bagi penulis sendiri membuka peluang bahwa kedua-duanya menarik dan justru ada benang merahnya. Bagi Sindhunata, seorang filosof yang juga seorang jurnalis, sepakbola ialah sumber ilham dalam banyak hal, termasuk dalam politik. Dari catatannya kita bisa mengurai satu persatu hubungan antara sepakbola dengan sosial, ekonomi, politik, psikologi, filsafat atau apapun itu. Sindhunata dalam tulisannya, politik yang akan mewarnai sepakbola ataukah sebaliknya: sepakbola akan melebur hiruk pikuk politik menjadi sebuah hiburan?

Antara Cristiano Ronaldo, Ridwan Kamil dan Jokowi

Ada yang tidak mengenal tokoh tokoh di atas? Dalam banyak hal, ketiga tokoh ini ialah sebetulnya “pemain bola yang berpolitik” atau Politikus yang paham Sepakbola. Ronaldo, striker Tim Nasional Portugal dan Klub elit Real Madrid, ialah peraih FIFA Ballon D’Or, penghargaaan pemain sepakbola dunia terbaik sejagat. 4 tahun berturut turut. Dengan penghasilan Rp 5,3 T setahun dan 120.582.603 pengikutnya di media sosial. Dengan kepemimpinnya, Portugal justru menjadi Juara Eropa bukan pada ketika menjadi tuan rumah tahun 2012. Tapi Justru di Tahun 2016. Melawan Perancis yang menjadi tuan rumah dan menjadi unggulan. Kemampuannya memotivasi ketika detik detik tamat final dari dingklik cadangan, ialah menyerupai pemimpin politik yang berdiri di tengah tengah krisis politik. Maka ketika itu, Cristiano Ronaldo ialah “presiden” Portugal. Lalu adakah yang mengenal nama Presiden Portugal? Jangan jangan ada yang menyebut Cristiano Rinaldo, presidennya.

Lalu Ridwan Kamil, seorang arsitek profesional yang kemudiaan menjadi Walikota Bandung. Salah satu kandidat besar lengan berkuasa Gubernur Provinsi Jawa Barat dalam Pilkada 2018. Seperti Cristiano Ronaldo: ganteng, smart dan lihai memaksimalkan media umum dengan follower 3.256.122. Ide-ide nya dalam membangun Kota Bandung mirip skill dribling dan shooting Ronaldo atau Lionel Messi dalam memanfaatkan untuk menjadi gol dalam setiap pertandingan. Selalu menjadi pembeda dan solution maker di tengah kejenuhan dan kebuntuan suatu rutinitas dalam pakem pembangunan yang “business as usual”. Sebagai Walikota Bandung dan juga pendukung Persib, ia dengan lihai memanfaatkan eforia kesuksesan Persib menjadi juara Liga Indonesia untuk larut bersama bobotoh yang juga ialah “potential voter” yang besar.

Sementara Joko Widodo, ialah pemain dengan tipikal pekerja keras. Ahli Percepatan. 5 Tahun cukup baginya untuk meraih jabatan politik yang “wah” : Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta dan Presiden Republik Indonesia dengan penduduk 250 juta jiwa. Meski berperawakan kurus, “klemat klemot” khas orang Jawa Solo, Jokowi ialah antitesa dari agresivitas gol Cristiano Ronaldo atau sang Walikota Ridwan Kamil yang elegan. Maka Jokowi ialah tipikal pemain bertahan (defensif). Dalam sistem defensif ini, pemain hanya betah di wilayahnya sendiri. Bertualang di tempat lawan sebisa-bisanya diminimalkan. Ide untuk menciptakan dan menentukan permainan, inisiatif untuk menyerang, memprovokasi supaya lawan juga mengatakan rujukan permainannya, semua ialah “larangan” dalam birokrasi sistem defensif. Sebaliknya, menanti dan mengharapkan lawan melaksanakan kesalahan, menanti kesempatan “counter”. Jokowi dengan sabar dan setia dibarisan belakang dan bisa mengoptimalkan semua pemain lain di semua lini untuk membentuk tim yang solid dan produktif. Lawan lawan politiknya takluk secara pelan pelan. Ibarat Timnas Italia, menjadi Juara Dunia 2010 atau tim non unggulan Estonia di Piala Dunia 2018 mendatang.

Tahun 2018: Siapakah Makara Pemenang?

Lalu pertanyaannya, di Tahun Politik, di Pilkada 2018, apakah periode politik menyerang atau justru kemenangan bagi politik bertahan? Apakah Cristiano Ronaldo akan kembali berjaya di Wold Cup Rusia? Yang terperinci Belanda, atau identik dengan Ahok, sang penganut filosofi menyerang (total football), tergoda oleh stareginya yang over agresif. Tetapi juga di sisi lain, Timnas Italia, sang penganut ketat politik bertahan sudah gugur di putaran final. Apakah ini bertanda pemain bertahan mirip Jokowi akan mirip itu? Ataukah kejayaan bagi penganut politik populis ala Ridwal Kamil?

Menurut Penulis, di tengah kegalauan yang amat sangat, makin lebarnya antara keinginan dan tuntutan kebutuhan, tekanan ekonomi yang makin berat, inflasi yang tidak terkendali, suku bunga bank yang tidak stabil, pajak yang makin mencekik, maka banyak mahir ekonomi dan futurolog yang memprediksi ekonomi akan bergerak realistis dan bahkan cenderung pesimistis. Para penonton, para pemilih, ataupun masyarakat kebanyakan akan lebih gampang menyukai dan mendapatkan “janji-janji” politik dan taktik permainan yang populis. Permainan politik yang santun dan menenangkan. Yang bisa bertahan dan memaksimalkan kemampuan yang ada untuk mencapai cita-cita impiannya. Sabar bertahan tetapi juga lihai menyerang pada ketika saat yang tepat.

Siapakah ia pemenangnya? Kita tunggu saja dan catat tanggal mainnya. Pilkada serentak telah dimulai semenjak proses registrasi penerima awal Januari 2018 dan akan memuncak pada pemungutan bunyi 27 Juni 2018. Sementara World Cup 2018 telah menentukan 32 penerima putaran final dan akan saling bertarung dari 14 Juni-15 Juli 2018.

Melihat puncak eskalasinya hampir berdekatan, tampaknya informasi Pilkada dan World Cup akan saling merebut headline media massa dan hiruk pikuk di media umum di medio Juli-Juli mendatang. Menurut penulis, situasi psikologis antara pencinta sepakbola dan penikmat politik akan berjalan linier. Tahun 2018 apakah tahun politik atau tahun sepakbola? jawabannya ialah akan bertemu dalam satu benang merah bahwa sepakbola atau politik akan indah apabila prosesnya berjalan dalam suasana yang jujur (fair play), saling menghormati (respect), dan antidiskriminasi dan SARA.

Penulis : M. Ramadhani


Sangat Viral Piala Dunia 2018: 11 Kota, 12 Stadion


Keseruan Piala Dunia tak lengkap tanpa kehadiran stadion-stadion megah nan indah di setiap edisinya. Begitu pula dengan Piala Dunia 2018.

Piala Dunia tahun depan akan digelar di Rusia. Sebanyak 12 venue sudah disiapkan yang tersebar di 11 kota. Moskow jadi kota dengan jumlah stadion paling banyak adalah dua, Luzhniki Stadium dan Spartak Stadium.

Ada lima stadion yang gres dibangun adalah Cosmos Arena, Mordovia Arena, Rostov Arena, Volgograd Arena, Nizhny Novgorod Stadium, dan Kalinigrad Stadium. Sementara ada dua stadion yang dipugar atau dibangun kembali.

Moskow dan Saint-Petersburg jadi kota yang paling sering menggelar pertandingan adalah masing-masing tujuh. Laga pembuka dan selesai akan digelar di Luzhniki Stadium yang berkapasitas paling besar, 81 ribu daerah duduk.


Sangat Viral Piala Dunia 2018: 11 Kota, 12 Stadion


Keseruan Piala Dunia tak lengkap tanpa kehadiran stadion-stadion megah nan indah di setiap edisinya. Begitu pula dengan Piala Dunia 2018.

Piala Dunia tahun depan akan digelar di Rusia. Sebanyak 12 venue sudah disiapkan yang tersebar di 11 kota. Moskow jadi kota dengan jumlah stadion paling banyak adalah dua, Luzhniki Stadium dan Spartak Stadium.

Ada lima stadion yang gres dibangun adalah Cosmos Arena, Mordovia Arena, Rostov Arena, Volgograd Arena, Nizhny Novgorod Stadium, dan Kalinigrad Stadium. Sementara ada dua stadion yang dipugar atau dibangun kembali.

Moskow dan Saint-Petersburg jadi kota yang paling sering menggelar pertandingan adalah masing-masing tujuh. Laga pembuka dan selesai akan digelar di Luzhniki Stadium yang berkapasitas paling besar, 81 ribu daerah duduk.


Sangat Viral Piala Dunia 2018: 11 Kota, 12 Stadion


Keseruan Piala Dunia tak lengkap tanpa kehadiran stadion-stadion megah nan indah di setiap edisinya. Begitu pula dengan Piala Dunia 2018.

Piala Dunia tahun depan akan digelar di Rusia. Sebanyak 12 venue sudah disiapkan yang tersebar di 11 kota. Moskow jadi kota dengan jumlah stadion paling banyak adalah dua, Luzhniki Stadium dan Spartak Stadium.

Ada lima stadion yang gres dibangun adalah Cosmos Arena, Mordovia Arena, Rostov Arena, Volgograd Arena, Nizhny Novgorod Stadium, dan Kalinigrad Stadium. Sementara ada dua stadion yang dipugar atau dibangun kembali.

Moskow dan Saint-Petersburg jadi kota yang paling sering menggelar pertandingan adalah masing-masing tujuh. Laga pembuka dan selesai akan digelar di Luzhniki Stadium yang berkapasitas paling besar, 81 ribu daerah duduk.


Sangat Viral Inilah 7 Tim Yang Memastikan Lolos Ke 8 Besar Piala Presiden 2018.


Piala Presiden 2018 sudah berlangsung semenjak 16 Januari 2018 kemudian dan mempertemukan Persib Bandung versus Sriwijaya FC di laga pembuka. Kini tiga dari lima grup yang ada telah menuntaskan seluruh pertandingannya. Ketiga grup itu yakni Grup A, Grup B, dan Grup C.

Sedangkan Grup D dan E akan memainkan laga pemungkas di masing-masing grup pada Senin (29/01/18) dan Selasa (30/01/18).

Meskipun pertandingan di fase grup belum selesai seluruhnya, namun sudah ada tujuh tim yang memastikan diri melaju ke babak delapan besar Piala Presiden 2018. Di Piala Presiden 2018 ini, juara grup otomatis lolos ke babak delapan besar. Sedangkan hanya tiga runner up grup terbaik yang berhak menantang para juara grup di babak delapan besar.

Tiga tim telah memastikan diri menjadi juara grup. Sedangkan dua juara grup lagi masih akan ditentukan di pertandingan terakhir. Dua tim telah memastikan diri menjadi runner up terbaik di grup A dan C.

Sedangkan runner up grup D meski sudah dipastikan lolos, namun gres akan diketahui siapa tim yang menjadi runner up usai laga antara Bali United melawan Persija malam nanti.

Satu daerah tersisa di babak delapan besar akan diperebutkan oleh Arema FC dan Bhayangkara FC.

Berikut ini  tim-tim yang telah memastikan diri melaju ke babak delapan besar Piala Presiden 2018.

Sriwijaya FC

Sriwijaya FC lolos ke babak delapan besar Piala Presiden 2018 dengan status juara grup dengan poin enam hasil dari dua kemenangan dan satu kali menderita kekalahan. Kekalahan tersebut didapat anak bimbing Rahmad Darmawan di laga perdana Piala Presiden 2018 melawan Persib Bandung. Kala itu Sriwijaya FC kalah dengan skor 1-0 alasannya yakni gol dari Oh In-kyun.

Sudah kalah di laga perdana, Sriwijaya FC mengamuk di laga kedua menghadapi PSM Makassar. Laskar Wong Kito membantai Juku Eja yang dihuni para pemain muda dengan skor 3-0. Gol dari Sriwijaya masing-masing dicetak oleh Adam Alis, penalti dari Makan Konate, dan gol dari Manu Dzhalilov.

Di laga pamungkas, Sriwijaya menghadapi PSMS Medan. Sriwijaya FC membutuhkan kemenangan untuk lolos sambil berharap Persib Bandung meraih hasil negatif. Sempat bermain 0-0 di babak pertama, Sriwijaya pribadi tancap gas di babak kedua. Satu gol bunuh diri dari Samuel Sibatuara dan gol penalti dari Makan Konate membawa Sriwijaya FC menjadi juara grup dengan unggul selisih gol atas PSMS, dan Persib gagal meraih hasil positif.

PSMS Medan

PSMS Medan bermain dengan apik di dua laga Grup A Piala Presiden 2018. PSMS memetik kemenangan dengan skor 2-1 atas PSM Makassar. Gol dari Suhandi dan Antony Nugroho hanya dibalas oleh satu gol dari Guy Junior.

Di laga kedua, PSMS menciptakan kejutan dengan menjungkalkan tuan rumah Persib Bandung dengan skor 2-0. Dua gol dengan jarak waktu yang tak begitu jauh dicetak Frets Butuan dan Antoni Putri di babak pertama. Selain dua gol tersebut, penampilan apik penjaga gawang Abdul Rohim yang mementahkan banyak peluang Maung Bandung, menjadi faktor penting dalam kemenangan PSMS Medan.

Meski tampil apik di dua laga sebelumnya, PSMS harus menderita kekalahan di partai pamungkas. PSMS dikalahkan Sriwijaya FC dengan dua gol tanpa balas. Kekalahan itu menciptakan PSMS Medan bercokol di posisi kedua klasemen tamat Grup A. Tapi, PSMS dinyatakan lolos ke babak delapan besar sebagai salah satu runner up terbaik. Hal ini dikarenakan enam poin dari PSMS tak akan bisa disusul oleh runner up Grup B dan Grup E.

Mitra Kukar

Mitra Kukar memastikan lolos sebagai juara Grup B dengan poin sempurna, 9. Tiga kemenangan berhasil disapu higienis oleh Naga Mekes di fase grup.

Mitra Kukar mengawali Piala Presiden 2018 dengan kemenangan 2-0 atas Martapura FC. Brace dari Fernando Rodriguez Ortega tak bisa dibalas oleh Martapura FC.

Di laga kedua, giliran Hendra Bayauw yang menjadi jagoan bagi Mitra Kukar. Satu golnya ke gawang Kalteng Putra membawa Mitra Kukar meraih kemenangan kedua di Piala Presiden 2018.

Pada laga pamungkas, Mitra Kukar harus berhadapan dengan tim berpengaruh Barito Putera. Laga tersebut menjadi penentu posisi juara Grup B. Sempat hampir tertinggal alasannya yakni penalti Rizky Pora (yang karenanya gagal), Mitra Kukar bisa menang dengan skor tipis 1-0 berkat penalti dari Fernando Rodriguez Ortega di menit tamat babak pertama.

Persebaya Surabaya

Persebaya Surabaya meraih hasil kurang memuaskan di laga perdana Grup C. Bajul Ijo hanya bisa meraih hasil imbang 1-1 melawan PS TNI. Tertinggal lebih dulu alasannya yakni gol Manahati Lestusen, Persebaya bisa terhindar dari kekalahan berkat gol Ferinando Pahabol.

Barulah di laga kedua, Persebaya bisa memetik kemenangan. Melawan Perseru Serui, Persebaya meraup tiga poin berkat gol Rishadi Fauzi dan gol pemain terbaik Liga 2 2017, Irfan Jaya.

Dan di laga pamungkas, Persebaya memastikan diri menjadi juara Grup C dengan poin 7 berkat kemenangan 1-0 atas Madura United. Gol spektakuler dari Ferinando Pahabol menciptakan Bajul Ijo melangkahkan kaki ke babak delapan besar.

Madura United

Madura United menjadi tim pertama yang bisa mencetak lima gol dalam satu pertandingan di Piala Presiden 2018. Lima gol berhasil mereka sarangkan ke gawang Perseru Serui. Dua gol Greg Nwokolo, ditambah gol dari Bayu Gatra, Gonzales, dan Maitimo membawa Sapeh Kerrab meraih tig poin.

Kegemilangan Madura United masih berlanjut di pertandingan kedua. Melawan PS TNI, Madura United menang dengan skor 3-1. Bayu Gatra, Greg Nwokolo, dan Gonzales kembali mencetak gol di pertandingan ini. Sayangnya di laga terakhir, Madura United dikalahkan Persebaya dengan skor 1-0. Meski begitu, Madura United tetap lolos ke delapan besar sebagai salah satu runner up terbaik. Hal ini dikarenakan enam poin dari MU tak akan bisa disusul oleh runner up Grup B dan Grup E.

Persija Jakarta

Persija Jakarta yang diperkuat para penggawa gres berhasil meraih kemenangan di pertandingan pertama. Menghadapi PSPS, Persija menang 3-0 berkat gol dari Marko Simic, gol penalti dari Ismed Sofyan, dan gol dari legenda hidup Bambang Pamungkas.

Pada pertandingan selanjutnya, Persija kembali meraih kemenangan. Kali ini yang dikalahkan yakni Borneo FC. Dua gol Marko Simic menciptakan Pesut Etam tak berdaya.

Dengan dua kemenangan tersebut sudah cukup mengantarkan Macan Kemayoran. Pasalnya enam poin Persija tak akan terkejar oleh runner up Grup B dan Grup E. Persija tinggal melawan Bali United untuk memastikan status juara atau runner up Grup D.

Bali United

Sama menyerupai Persija, Bali United yang telah meraih enam poin, sudah memastikan satu daerah di babak delapan besar. Bali United akan berduel dengan Persija untuk memilih juara Grup D.

Bali United dua kali meraih kemenangan dramatis di Grup D. Saat melawan Borneo FC, Bali United menang dengan skor 3-2 berkat gol di injury time dari Lilipaly yang juga mencetak hattrick di laga itu.

Saat melawan PSPS, hasil dramatis dengan skor 3-2 kembali terjadi. Kali ini para pemain muda menjadi jagoan Bali United. Martinus Novianto, I Nyoman Sukarja, dan Ikhwan Azka menjadi pencetak gol bagi Bali United.